Abstrak
Silsilah keguruan dalam tradisi tarekat merupakan representasi kesinambungan transmisi spiritual yang berpotensi membentuk orientasi keagamaan, identitas kolektif, dan perilaku sosial pengamalnya. Artikel ini mengkaji silsilah Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) Pondok Pesantren Suryalaya melalui perspektif Quranic Social Sufism, dengan merujuk pada kerangka teoretis yang dikembangkan Zenrif, Nuqul, Mustofa, dan Barizi dalam Ulumuna (2024). Penelitian menggunakan studi pustaka dan analisis dokumen dengan memadukan perspektif Living Qur’an, Social Representation Theory, psikologi sosial, dan kajian tasawuf. Bagan silsilah yang mencantumkan Kitab Uqudul Juman, halaman 62–70, diperlakukan sebagai representasi visual tradisi keguruan yang perlu diperiksa lebih lanjut melalui sumber primer. Artikel ini mengajukan proposisi bahwa silsilah dapat berfungsi sebagai representasi sosial mengenai otoritas spiritual, kesinambungan nilai, dan identitas jamaah. Namun, relevansi sosialnya tidak cukup dibuktikan melalui pengakuan terhadap silsilah, melainkan perlu ditelusuri melalui proses internalisasi nilai Al-Qur’an, pembentukan karakter, dan tindakan kolektif. QS. al-Mā’idah [5]: 2 menjadi landasan normatif untuk menilai apakah hubungan spiritual diterjemahkan menjadi al-birr dan ta’āwun, yakni kebajikan dan kerja sama dalam kebaikan. Artikel ini menegaskan bahwa kesinambungan silsilah memperoleh makna sosial yang lebih luas ketika diwujudkan dalam perilaku etis, solidaritas, dan tanggung jawab terhadap masyarakat.
Kata kunci: Quranic Social Sufism, silsilah keguruan, TQN Suryalaya, Living Qur’an, karakter sosial, identitas kolektif.
Pendahuluan
Dalam tradisi tasawuf, hubungan guru dan murid tidak hanya berkaitan dengan penyampaian pengetahuan keagamaan, tetapi juga dengan pembentukan adab, pembiasaan praktik spiritual, dan pewarisan orientasi hidup. Silsilah keguruan menjadi representasi penting dari hubungan tersebut karena menghubungkan seorang guru dengan mata rantai transmisi spiritual yang diakui dalam tradisi tarekat. Melalui silsilah, komunitas memelihara ingatan mengenai kesinambungan ajaran, asal-usul otoritas spiritual, dan identitas yang diwariskan lintas generasi. Karena itu, silsilah dapat dipelajari bukan hanya sebagai dokumen genealogis, melainkan juga sebagai artefak kebudayaan keagamaan yang memiliki makna sosial (van Bruinessen, 1992).
Silsilah TQN Pondok Pesantren Suryalaya yang menjadi titik awal kajian ini menampilkan rangkaian nama yang dimulai dari Allah, Jibril, Nabi Muhammad, dan sejumlah tokoh yang diposisikan sebagai mata rantai transmisi spiritual hingga Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad atau Abah Sepuh dan Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin atau Abah Anom. Gambar tersebut mencantumkan Kitab Uqudul Juman, halaman 62–70, sebagai sumber. Representasi ini menarik karena memperlihatkan bagaimana sejarah dan otoritas spiritual disajikan dalam bentuk visual yang mudah disebarluaskan melalui media digital. Namun, autentisitas setiap mata rantai dan identitas bibliografis kitab yang dirujuk tetap memerlukan verifikasi melalui sumber primer.
Persoalan yang lebih penting bagi kajian sosial bukan hanya bagaimana silsilah disusun, tetapi bagaimana ia dimaknai dan berfungsi dalam kehidupan jamaah. Bagaimana pengakuan terhadap silsilah membentuk persepsi mengenai guru dan tradisi? Bagaimana hubungan keguruan berperan dalam proses internalisasi nilai? Apakah identitas yang dibangun melalui tradisi tersebut terwujud dalam perilaku kebajikan dan kerja sama sosial? Pertanyaan-pertanyaan ini membawa kajian silsilah dari wilayah deskripsi sejarah menuju analisis mengenai representasi sosial, pembentukan karakter, dan tindakan kolektif.
Perspektif Quranic Social Sufism yang dikembangkan Zenrif, Nuqul, Mustofa, dan Barizi (2024) memberikan kerangka yang relevan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dalam artikel “The Reconstruction of Social Sufism Studies: Quranic Sufism as the Basis of Internalizing Social Character and Identity”, mereka mengintegrasikan kajian Living Qur’an dan Social Representation Theory untuk memahami bagaimana pemaknaan Al-Qur’an berhubungan dengan pembentukan karakter sosial dan identitas komunitas. QS. al-Mā’idah [5]: 2 menjadi pusat analisis melalui konsep al-birr dan ta’āwun, yang menghubungkan orientasi keagamaan dengan kebajikan dan kerja sama sosial (Zenrif et al., 2024).
Artikel ini mengembangkan kerangka tersebut dengan menggeser objek kajian dari praktik tasawuf sosial secara umum menuju silsilah keguruan sebagai representasi sosial dalam tradisi TQN Suryalaya. Silsilah dipahami sebagai simbol yang dapat menghubungkan otoritas spiritual, pengetahuan keagamaan, dan identitas kolektif. Akan tetapi, simbol itu tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa nilai Al-Qur’an telah terinternalisasi. Proses internalisasi perlu ditelusuri melalui cara jamaah memahami ajaran, menjalankan praktik spiritual, membentuk kebiasaan, dan menerjemahkan nilai menjadi tindakan sosial.
Tujuan artikel ini adalah merumuskan pembacaan konseptual mengenai silsilah keguruan TQN Suryalaya melalui Quranic Social Sufism, terutama untuk menjelaskan hubungan antara representasi spiritual, internalisasi karakter sosial, dan identitas kolektif. Argumen utamanya adalah bahwa silsilah dapat menjadi salah satu sumber pembentukan identitas keagamaan, tetapi signifikansi sosialnya perlu dinilai berdasarkan hubungan antara pemaknaan silsilah, internalisasi nilai Al-Qur’an, dan perilaku nyata yang mendukung kebajikan bersama.
Metode Penelitian
Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka dan analisis dokumen. Dokumen utama berupa gambar silsilah TQN Pondok Pesantren Suryalaya yang mencantumkan Kitab Uqudul Juman, halaman 62–70. Gambar tersebut dianalisis sebagai representasi visual suatu tradisi keagamaan, bukan sebagai bukti yang secara otomatis mengesahkan seluruh mata rantai silsilah. Verifikasi historis memerlukan pemeriksaan kitab yang dirujuk, identitas penyusun, edisi, tahun terbit, serta perbandingan dengan dokumen lain yang relevan.
Kerangka analisis utama mengikuti pendekatan Quranic Social Sufism dari Zenrif et al. (2024), yang mempertemukan Living Qur’an dan Social Representation Theory. Perspektif Living Qur’an digunakan untuk melihat bagaimana nilai dan pemaknaan Al-Qur’an hadir dalam praktik sosial masyarakat, sedangkan SRT membantu menjelaskan bagaimana suatu komunitas membentuk dan mempertahankan pengetahuan bersama mengenai simbol, otoritas, dan identitas. Dalam kerangka ini, silsilah diperlakukan sebagai representasi sosial yang maknanya perlu ditelusuri melalui praktik pewarisan dan pemaknaan komunitas.
Analisis dilakukan pada tiga ranah yang saling berhubungan. Pertama, ranah representasi, yakni bagaimana silsilah menampilkan kesinambungan spiritual dan otoritas keguruan. Kedua, ranah internalisasi, yakni bagaimana nilai yang diasosiasikan dengan tradisi dipelajari dan dihayati melalui pengajaran, pembiasaan, serta praktik keagamaan. Ketiga, ranah aktualisasi sosial, yakni bagaimana nilai tersebut berpotensi diwujudkan dalam perilaku kebajikan, kerja sama, kepedulian, dan solidaritas.
QS. al-Mā’idah [5]: 2 digunakan sebagai horizon normatif untuk membaca hubungan antara spiritualitas dan tindakan sosial. Ayat ini tidak diposisikan sebagai bukti bahwa seluruh praktik tarekat secara otomatis memenuhi prinsip Al-Qur’an. Sebaliknya, ayat tersebut menjadi dasar untuk mengajukan pertanyaan kritis mengenai bagaimana kebajikan dan kerja sama diwujudkan dalam kehidupan komunitas. Karena artikel ini belum didasarkan pada wawancara atau observasi langsung di lingkungan TQN Suryalaya, pembahasan mengenai fungsi silsilah bersifat konseptual. Klaim mengenai pengalaman psikologis jamaah, pola solidaritas, dan dampak sosial tidak diperlakukan sebagai temuan lapangan. Ketiganya dirumuskan sebagai proposisi yang perlu diperiksa melalui penelitian empiris.
Silsilah Keguruan sebagai Representasi Sosial
Silsilah keguruan menghubungkan praktik spiritual masa kini dengan tradisi yang diakui memiliki kesinambungan historis dan keagamaan. Dalam kehidupan tarekat, silsilah dapat berfungsi sebagai rujukan mengenai hubungan guru dan murid, asal-usul transmisi ajaran, serta posisi seorang pembimbing dalam struktur tradisi. Sejarah tarekat di Indonesia memperlihatkan bahwa transmisi spiritual tidak dapat dilepaskan dari hubungan personal, kelembagaan, dan konteks sosial yang memungkinkan suatu tradisi bertahan dan berkembang (van Bruinessen, 1992).
Dalam perspektif Social Representation Theory, silsilah dapat dipahami sebagai representasi yang membantu komunitas mengorganisasi pengetahuan bersama mengenai tradisi. Representasi sosial tidak hanya berisi informasi, tetapi juga menyediakan kerangka pemaknaan yang membantu individu memahami suatu objek dan menempatkannya dalam dunia sosial. Moscovici (1984) menjelaskan pentingnya representasi sosial dalam pembentukan pengetahuan bersama yang beredar dan dipertahankan melalui komunikasi. Dalam konteks TQN Suryalaya, bagan silsilah dapat menjadi salah satu sarana yang membuat kesinambungan spiritual terlihat, mudah dikenali, dan dapat diwariskan.
Silsilah juga memiliki dimensi simbolik karena menghubungkan nama-nama tokoh dengan ingatan kolektif komunitas. Penyebutan Abah Sepuh dan Abah Anom, misalnya, dapat menjadi titik penghubung antara tradisi tarekat yang lebih luas dan sejarah kepemimpinan spiritual Suryalaya. Namun, untuk memahami kedudukan historis masing-masing tokoh secara terperinci, penelitian perlu merujuk pada dokumen primer, karya mereka, dan kajian sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan. Bagan silsilah saja tidak cukup untuk menjelaskan seluruh perkembangan kelembagaan dan hubungan sosial yang menyertai tradisi tersebut.
Dari sudut pandang Quranic Social Sufism, representasi silsilah perlu dikaji lebih jauh daripada fungsi pengenal identitas. Pertanyaan utamanya adalah bagaimana simbol kesinambungan spiritual dihubungkan dengan nilai yang dipahami bersumber dari Al-Qur’an. Apakah hubungan dengan guru dimaknai sebagai jalan pembinaan akhlak? Apakah penghormatan terhadap tradisi mendorong kedisiplinan, kepedulian, dan tanggung jawab? Bagaimana jamaah menjelaskan hubungan antara praktik spiritual dan kewajiban sosial? Jawaban atas pertanyaan ini akan memperlihatkan apakah silsilah terutama berfungsi sebagai simbol legitimasi atau juga menjadi bagian dari proses pendidikan etis.
Pembedaan antara legitimasi genealogis dan aktualisasi etis menjadi penting. Legitimasi genealogis berkaitan dengan pengakuan terhadap mata rantai keguruan, sedangkan aktualisasi etis berkaitan dengan kualitas perilaku yang berkembang melalui proses pendidikan dan penghayatan nilai. Keduanya dapat saling mendukung, tetapi tidak identik. Pengakuan terhadap silsilah tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh anggota komunitas telah menginternalisasi nilai yang diajarkan. Karena itu, silsilah sebaiknya dipahami sebagai salah satu unsur dalam ekosistem pewarisan tradisi, bukan sebagai ukuran tunggal kualitas spiritual atau moral seseorang.
Quranic Social Sufism dan Internalisasi Karakter Sosial
Konsep Quranic Social Sufism memberikan dasar untuk membaca tasawuf bukan hanya sebagai jalan pembinaan spiritual individual, tetapi juga sebagai orientasi etis yang berhubungan dengan kehidupan bersama. Zenrif et al. (2024) mengembangkan pendekatan ini melalui hubungan antara Al-Qur’an, representasi sosial, pembentukan karakter, dan identitas komunitas. Dalam kerangka tersebut, nilai keagamaan menjadi penting ketika dipahami, diinternalisasi, dan diwujudkan dalam pola perilaku sosial. QS. al-Mā’idah [5]: 2 menyatakan:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”
Ayat tersebut menghubungkan nilai keagamaan dengan dua orientasi penting, yaitu al-birr dan ta’āwun. Al-birr menunjuk pada kebajikan, sedangkan ta’āwun menekankan kerja sama dalam pelaksanaan kebaikan. Keduanya memberikan dasar untuk membaca spiritualitas sebagai sesuatu yang memiliki konsekuensi sosial. Dalam kerangka artikel Zenrif et al. (2024), pemaknaan ayat ini berhubungan dengan pembentukan karakter dan identitas sosial dalam komunitas Madura-santri di Kabupaten Malang.
Apabila kerangka tersebut diterapkan pada kajian silsilah TQN Suryalaya, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana kesinambungan keguruan dihubungkan dengan proses internalisasi nilai kebajikan dan kerja sama. Hubungan guru dan murid dapat menjadi ruang pembelajaran moral melalui nasihat, keteladanan, praktik ibadah, dan pembiasaan perilaku. Namun, proses tersebut perlu diteliti untuk mengetahui nilai apa yang diajarkan, bagaimana jamaah memahaminya, dan dalam situasi apa nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Internalisasi karakter sosial tidak cukup dibuktikan melalui pengakuan bahwa seseorang merupakan bagian dari suatu tarekat. Internalisasi mengandaikan adanya proses yang menghubungkan pengetahuan, penerimaan nilai, pembiasaan, dan perilaku. Seseorang dapat mengetahui pentingnya tolong-menolong, tetapi penerapan nilai tersebut dalam kehidupan memerlukan dukungan motivasi, kebiasaan, dan lingkungan sosial. Karena itu, penelitian tentang TQN perlu memperhatikan hubungan antara pemahaman jamaah terhadap ajaran, pengalaman mengikuti kegiatan tarekat, dan partisipasi mereka dalam aktivitas sosial.
Dalam perspektif ini, silsilah dapat berfungsi sebagai pintu masuk bagi proses internalisasi apabila kesinambungan spiritual dipahami sebagai tanggung jawab meneruskan nilai, bukan hanya mewarisi identitas. Penghormatan terhadap guru, misalnya, dapat dikaitkan dengan komitmen untuk menjaga adab, membangun kejujuran, membantu orang lain, dan memelihara hubungan sosial yang baik. Namun, hubungan tersebut harus dibuktikan melalui penjelasan jamaah dan praktik yang dapat diamati, bukan semata-mata diturunkan dari makna simbolik silsilah.
Pembacaan ini juga menghindari anggapan bahwa simbol tradisi selalu menghasilkan perilaku positif. Dalam penelitian sosial, hubungan antara representasi dan tindakan bersifat kontekstual. Makna yang sama dapat dihayati secara berbeda oleh individu atau kelompok. Karena itu, penelitian perlu memperhatikan pengalaman yang mendukung internalisasi nilai sekaligus kemungkinan adanya jarak antara simbol, pemahaman, dan perilaku. Dengan cara tersebut, Quranic Social Sufism berfungsi sebagai kerangka analitis dan normatif yang memungkinkan tradisi spiritual dibaca secara kritis sekaligus konstruktif.
Fungsi Psikologis dan Pembentukan Identitas Kolektif
Silsilah dapat memiliki relevansi psikologis ketika menjadi bagian dari cara individu memahami dirinya dan menempatkan pengalaman hidup dalam kerangka tradisi yang lebih luas. Seseorang yang merasa terhubung dengan guru, sejarah, dan komunitas spiritual dapat memperoleh rasa kesinambungan identitas. Akan tetapi, pengaruh psikologis tersebut tidak berasal dari bagan silsilah secara terpisah, melainkan dari proses pemaknaan, praktik spiritual, hubungan interpersonal, dan dukungan sosial yang menyertainya.
Pargament (1997) menjelaskan bahwa agama dapat menjadi sumber daya untuk menghadapi tekanan dan mencari makna, tetapi fungsi tersebut bergantung pada bentuk penghayatan agama serta konteks pengalaman individu. Dalam kajian TQN, teori ini dapat membantu merumuskan pertanyaan mengenai bagaimana ajaran guru, zikir, pembinaan akhlak, dan keterlibatan dalam komunitas berkaitan dengan cara jamaah menghadapi kesulitan. Teori tersebut tidak membuktikan bahwa semua pengamal memperoleh manfaat psikologis yang sama, tetapi menyediakan kerangka untuk meneliti pengalaman mereka secara lebih terarah.
Identitas kolektif juga dapat berkembang melalui representasi silsilah. Tajfel dan Turner (1979) menunjukkan bahwa keanggotaan kelompok berperan dalam cara individu memahami dirinya dan membangun hubungan dengan orang lain. Dalam tradisi tarekat, silsilah dapat memberikan narasi bersama mengenai asal-usul dan kesinambungan spiritual. Narasi tersebut berpotensi memperkuat rasa memiliki, memelihara ingatan kolektif, dan mendorong partisipasi dalam kegiatan komunitas.
Namun, identitas kolektif tidak selalu identik dengan solidaritas sosial yang lebih luas. Identitas dapat memperkuat hubungan internal, tetapi juga dapat membentuk batas antara kelompok sendiri dan kelompok lain. Karena itu, kualitas sosial suatu identitas perlu dilihat melalui orientasi tindakannya. Jika identitas tarekat mendorong kebajikan, kerja sama, dan pelayanan masyarakat, maka ia dapat menjadi sumber solidaritas yang produktif. Sebaliknya, apabila identitas hanya dipakai untuk membangun status atau menegaskan keunggulan kelompok, kontribusi sosialnya perlu dinilai secara kritis.
Dalam kerangka Quranic Social Sufism, pembentukan identitas perlu dihubungkan dengan orientasi normatif Al-Qur’an. QS. al-Mā’idah [5]: 2 memberikan tolok ukur bahwa kerja sama seharusnya diarahkan pada kebajikan dan ketakwaan. Dengan demikian, identitas spiritual bukan tujuan akhir yang berdiri sendiri, melainkan dapat menjadi landasan untuk mengembangkan perilaku yang bermanfaat bagi sesama. Hubungan antara silsilah dan identitas sosial baru dapat dipahami secara memadai ketika diteliti bersama praktik keagamaan, interaksi ant jamaah, dan kontribusi mereka dalam kehidupan masyarakat.
Silsilah Keguruan dan Aktualisasi Solidaritas Sosial
Solidaritas sosial tidak hanya terbentuk karena adanya simbol atau identitas bersama, tetapi juga melalui interaksi, kerja sama, dan pengalaman melakukan kegiatan kolektif. Dalam komunitas keagamaan, kegiatan pengajian, zikir berjamaah, manaqiban, pendidikan, dan pelayanan masyarakat dapat menjadi ruang yang memungkinkan hubungan interpersonal berkembang menjadi jaringan dukungan sosial. Kajian Kodir (2020) tentang sosialisasi TQN Suryalaya menunjukkan bahwa proses pewarisan tradisi melibatkan pembimbing, keluarga, lembaga pendidikan, dan media. Hal ini memperlihatkan pentingnya mekanisme sosial dalam mempertahankan keberlanjutan suatu tradisi.
Dalam pembacaan Quranic Social Sufism, solidaritas perlu dipahami sebagai aktualisasi nilai, bukan sekadar kedekatan emosional antarangggota. Ta’āwun dalam QS. al-Mā’idah [5]: 2 menekankan kerja sama dalam kebajikan. Oleh karena itu, solidaritas yang relevan untuk dikaji mencakup kegiatan membantu anggota yang mengalami kesulitan, kepedulian terhadap masyarakat sekitar, dukungan pendidikan, pelayanan sosial, serta kerja sama lintas kelompok yang berorientasi pada kemaslahatan.
Silsilah dapat memberikan legitimasi simbolik bagi komitmen untuk meneruskan tradisi, tetapi aktualisasi sosialnya bergantung pada bagaimana nilai tersebut diterjemahkan ke dalam tindakan. Penelitian perlu menelusuri apakah kegiatan kolektif jamaah menghasilkan bentuk dukungan yang dapat diamati, bagaimana keputusan untuk membantu orang lain diambil, dan bagaimana nilai agama digunakan untuk menjelaskan tindakan tersebut. Dengan demikian, hubungan antara silsilah dan solidaritas tidak disimpulkan secara langsung, tetapi dianalisis melalui proses yang menghubungkan representasi, internalisasi, dan perilaku.
Pendekatan ini juga memungkinkan kajian yang lebih seimbang mengenai hubungan komunitas tarekat dengan masyarakat luas. Solidaritas internal dapat menjadi sumber daya sosial yang penting, tetapi perlu dilihat apakah manfaatnya meluas kepada warga yang tidak menjadi anggota tarekat. Orientasi al-birr dan ta’āwun memungkinkan penelitian menilai sejauh mana nilai spiritual berkontribusi terhadap kebaikan bersama tanpa membatasi manfaatnya pada kepentingan kelompok sendiri.
Dengan demikian, kontribusi silsilah terhadap kehidupan sosial tidak cukup diukur melalui kuatnya pengakuan terhadap otoritas guru atau keberlanjutan ritual. Ukuran yang lebih substantif adalah sejauh mana nilai yang dihubungkan dengan tradisi tersebut mendorong perilaku etis, kerja sama, kepedulian, dan tanggung jawab sosial. Di sinilah silsilah dapat dibaca sebagai bagian dari proses kebudayaan yang menghubungkan ingatan spiritual dengan tindakan kemanusiaan.
Silsilah dalam Ruang Digital dan Pewarisan Tradisi
Peredaran gambar silsilah melalui media sosial memperlihatkan perubahan cara tradisi keagamaan direpresentasikan dan diwariskan. Bagan yang sebelumnya mungkin dikenal melalui kitab, pengajian, atau lingkungan pesantren kini dapat diakses melalui telepon genggam dan dibagikan tanpa harus disertai penjelasan panjang. Perubahan ini membuka peluang bagi generasi muda untuk mengenal sejarah dan identitas tarekat, tetapi juga menimbulkan persoalan mengenai konteks, ketepatan informasi, dan kedalaman pemahaman.
Dalam perspektif representasi sosial, media bukan hanya saluran netral untuk menyampaikan informasi. Media ikut menentukan bentuk simbol yang beredar, cara informasi dipahami, dan kemungkinan suatu representasi memperoleh pengakuan dalam komunitas. Gambar silsilah dapat berfungsi sebagai penanda identitas, sarana pengenalan tradisi, atau bahan pembelajaran awal. Namun, apabila sumber dan konteksnya tidak diperiksa, reproduksi gambar dapat memperluas kesalahan ejaan, ketidakjelasan hubungan keguruan, atau klaim sejarah yang belum diverifikasi.
Perspektif Quranic Social Sufism memungkinkan persoalan digital ini dibaca melalui hubungan antara representasi, internalisasi, dan karakter sosial. Pertanyaannya bukan hanya seberapa luas gambar silsilah dibagikan, tetapi juga apakah penyebarannya disertai pemahaman mengenai nilai yang diwariskan. Apakah generasi muda memahami silsilah sebagai tanggung jawab untuk memelihara akhlak dan kebajikan, atau hanya sebagai penanda keanggotaan? Apakah komunikasi digital memperkuat pendidikan dan kerja sama sosial, atau justru berhenti pada reproduksi simbol?
Karena itu, pewarisan silsilah melalui media digital perlu dihubungkan dengan literasi sumber, penjelasan sejarah, dan pendidikan etis. Pemeriksaan terhadap kitab yang dirujuk, pengenalan tokoh secara proporsional, dan penjelasan mengenai hubungan antara spiritualitas dan tanggung jawab sosial dapat membantu menjaga kesinambungan tradisi. Dalam konteks ini, teknologi dapat menjadi sarana penguatan tradisi apabila digunakan untuk memperdalam pemahaman dan memperluas manfaat sosial, bukan hanya memperbanyak distribusi simbol.
Implikasi Teoretis bagi Kajian Quranic Social Sufism
Penerapan Quranic Social Sufism pada silsilah TQN Suryalaya memperluas objek kajian dari praktik tasawuf sosial menuju representasi yang menopang pemaknaan tradisi. Jika Zenrif et al. (2024) menggunakan QS. al-Mā’idah [5]: 2 dan teori representasi sosial untuk mengkaji internalisasi karakter dan identitas komunitas, penelitian mengenai silsilah dapat menelaah bagaimana representasi otoritas spiritual dihubungkan dengan proses internalisasi nilai yang sama. Dengan demikian, silsilah tidak hanya menjadi data sejarah, tetapi juga objek untuk meneliti hubungan antara simbol, keyakinan, dan tindakan sosial.
Secara konseptual, hubungan tersebut dapat dipahami melalui rangkaian representasi, pemaknaan, internalisasi, dan aktualisasi. Silsilah menghadirkan representasi kesinambungan spiritual. Representasi itu dimaknai melalui pengajaran, praktik keagamaan, dan interaksi sosial. Pemaknaan dapat berkontribusi pada internalisasi nilai apabila diterima dan dibiasakan dalam kehidupan. Selanjutnya, internalisasi dapat tercermin dalam perilaku sosial yang relevan dengan al-birr dan ta’āwun. Rangkaian ini merupakan model analitis yang perlu diuji, bukan hubungan kausal yang telah dibuktikan oleh gambar silsilah.
Model tersebut juga memungkinkan penelitian menemukan adanya kesenjangan antara representasi dan perilaku. Pengakuan terhadap silsilah dapat kuat, tetapi belum tentu diikuti partisipasi sosial yang luas. Sebaliknya, nilai kebajikan dapat diwujudkan melalui kegiatan komunitas meskipun tidak selalu dinyatakan secara eksplisit melalui simbol silsilah. Variasi tersebut penting bagi pengembangan teori karena menunjukkan bahwa pengaruh simbol keagamaan dimediasi oleh pengalaman, hubungan sosial, dan konteks kelembagaan.
Dari perspektif Tafsir al-Tsaqafiy, analisis ini memperlihatkan bagaimana nilai Al-Qur’an berinteraksi dengan produk kebudayaan dan memperoleh bentuk dalam kehidupan masyarakat. Silsilah dibaca sebagai representasi yang perlu dipahami melalui sejarah, praktik, dan dampaknya, sedangkan QS. al-Mā’idah [5]: 2 menyediakan orientasi normatif untuk menilai arah tindakan sosial. Perpaduan tersebut menjaga hubungan antara kajian Al-Qur’an dan realitas sosial tanpa menyamakan klaim normatif dengan temuan empiris.
Penelitian lanjutan perlu melakukan wawancara dengan pembimbing tarekat, pengurus pesantren, jamaah senior, dan jamaah muda; mengamati kegiatan yang relevan; serta menelusuri bagaimana silsilah digunakan dalam proses pendidikan dan pembentukan identitas. Data tersebut diperlukan untuk mengetahui apakah, bagaimana, dan dalam kondisi apa representasi silsilah berhubungan dengan internalisasi karakter sosial. Dengan cara ini, kajian silsilah dapat memberikan kontribusi yang lebih terukur bagi pengembangan Quranic Social Sufism.
Kesimpulan
Silsilah keguruan TQN Pondok Pesantren Suryalaya dapat dikaji melalui perspektif Quranic Social Sufism sebagai representasi sosial yang menghubungkan kesinambungan spiritual, otoritas guru, identitas kolektif, dan pewarisan nilai. Dengan merujuk pada kerangka Zenrif et al. (2024), analisis silsilah dapat dikembangkan melampaui deskripsi genealogis menuju kajian mengenai bagaimana simbol keagamaan dimaknai, diinternalisasi, dan berpotensi diwujudkan dalam tindakan sosial.
QS. al-Mā’idah [5]: 2 memberikan orientasi normatif melalui konsep al-birr dan ta’āwun. Dalam kerangka ini, kebermaknaan sosial silsilah tidak cukup ditentukan oleh pengakuan terhadap mata rantai keguruan, tetapi perlu ditelusuri melalui hubungan antara tradisi spiritual, pembentukan karakter, dan perilaku yang mendukung kebajikan bersama. Fungsi psikologis dan sosial silsilah tetap harus dibuktikan melalui penelitian terhadap pengalaman jamaah dan praktik komunitas.
Kontribusi utama artikel ini adalah usulan untuk memperlakukan silsilah sebagai representasi sosial yang dapat menjadi objek kajian Living Qur’an dan Quranic Social Sufism. Silsilah tidak hanya merekam kesinambungan tradisi, tetapi juga membuka pertanyaan mengenai bagaimana nilai spiritual diterjemahkan menjadi tanggung jawab moral dan solidaritas sosial. Penelitian lanjutan perlu memverifikasi sumber primer Uqudul Juman serta melakukan studi lapangan untuk menilai hubungan antara pemaknaan silsilah, internalisasi nilai Al-Qur’an, dan aktualisasi karakter sosial dalam kehidupan jamaah TQN Suryalaya.
Daftar Pustaka
Berger, Peter L., dan Thomas Luckmann. 1966. The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge. Garden City, NY: Doubleday.
Kodir, Muhamad. 2020. “Sosialisasi Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah (TQN) Pondok Pesantren Suryalaya terhadap Masyarakat Sekitar.” ISTIQAMAH: Jurnal Ilmu Tasawuf 1 (2): 90–109.
Moscovici, Serge. 1984. “The Phenomenon of Social Representations.” Dalam Social Representations, disunting oleh Robert M. Farr dan Serge Moscovici, 3–69. Cambridge: Cambridge University Press.
Pargament, Kenneth I. 1997. The Psychology of Religion and Coping: Theory, Research, Practice. New York: Guilford Press.
Tajfel, Henri, dan John C. Turner. 1979. “An Integrative Theory of Intergroup Conflict.” Dalam The Social Psychology of Intergroup Relations, disunting oleh William G. Austin dan Stephen Worchel, 33–47. Monterey, CA: Brooks/Cole.
van Bruinessen, Martin. 1992. Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia: Survei Historis, Geografis, dan Sosiologis. Bandung: Mizan.
Zenrif, Muchammad Fauzan, Fathul Lubabin Nuqul, M. Lutfi Mustofa, dan Achmad Barizi. 2024. “The Reconstruction of Social Sufism Studies: Quranic Sufism as the Basis of Internalizing Social Character and Identity.” Ulumuna 28 (2): 620–654. https://doi.org/10.20414/ujis.v28i2.1113.
Uqudul Juman. Rujukan halaman 62–70 sebagaimana dicantumkan dalam gambar silsilah TQN Pondok Pesantren Suryalaya. Identitas penyusun, edisi, penerbit, dan tahun terbit perlu diverifikasi dari sumber primer.