Hubungan sosial Abah KH. Kholili Nawawi secara personal dengan semua kalangan sangat baik. Abah adalah sosok yang mampu berdiri di tengah masyarakat tanpa sekat sosial, tanpa jarak kelas, dan tanpa rasa lebih tinggi dari siapa pun. Namun ada satu hal yang sangat khas dari Abah: kedekatan Beliau dengan orang-orang miskin.
Setiap ada kegiatan di masyarakat, terutama ketika terjadi kematian, Abah sangat memperhatikan undangan atau kehadiran takziyah dari orang yang oleh kebanyakan orang disebut “miskin”. Dalam hal ini, Abah bahkan terlihat sangat gopoh—tergesa-gesa dalam makna positif—tak ingin terlambat sedikit pun. Ini agak berbeda dengan kebiasaan banyak orang yang justru lebih memperhatikan undangan dan takziyah dari orang-orang kaya atau terpandang.
Sikap Abah ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa Beliau anti terhadap orang kaya. Tidak demikian. Abah juga sangat dekat dengan beberapa orang yang dikenal kaya di Desa Ganjaran, Bulupitu, dan daerah sekitarnya. Hubungan itu terjalin dengan baik, wajar, dan penuh adab. Hanya saja, jika Abah memperoleh undangan atau kabar duka dari orang miskin, perhatian Beliau terasa jauh lebih besar—seolah ada panggilan batin yang tidak bisa ditunda.
Saya pernah menemani Abah menghadiri takziyah seperti itu. Sepanjang jalan saya justru dimarahi karena terlambat. Bukan karena Abah marah kepada saya secara personal, tetapi karena Beliau tidak ingin kehadirannya terlambat bagi orang yang sedang berduka dan lemah. Dari situ saya belajar bahwa empati Abah bukan teori, melainkan tindakan nyata, bahkan sampai pada urusan waktu dan rasa bersalah jika terlambat.
Selain dekat dengan masyarakat kecil, Abah juga sangat dekat dengan para Habaib. Hubungan ini bukan sekadar relasi sosial, tetapi juga relasi keilmuan dan spiritual. Abah sangat sering berkonsultasi ilmu kepada Habib Alwi al-Yidrus di Malang. Sementara untuk konsultasi spiritual, Abah kerap sowan kepada Habib Muhammad al-Jufri di Ganjaran. Kedekatan ini menunjukkan kerendahan hati Abah sebagai seorang kyai yang terus merasa perlu belajar, bertanya, dan ngalap barokah.
Sebagaimana juga dilakukan oleh Mbah As’ad, Abah memiliki kamar khusus yang disiapkan untuk para Habaib apabila berkenan menginap. Kamar itu bukan sekadar ruang fisik, tetapi simbol penghormatan dan adab terhadap dzurriyat Rasulullah ﷺ. Dalam praktik seperti inilah kita melihat bagaimana tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah hidup secara nyata di pesantren dan rumah Abah—bukan hanya dalam kitab, tetapi dalam laku sehari-hari.
Dari hubungan sosial Abah ini, saya semakin memahami bahwa keulamaan sejati tidak diukur dari jarak dengan masyarakat, melainkan dari kemampuan merangkul semua: yang miskin dimuliakan, yang kaya dihormati, para habaib dijaga adabnya, dan semuanya diperlakukan dengan ketulusan. Itulah wajah Islam yang hidup, yang pernah saya saksikan langsung pada diri Abah KH. Kholili Nawawi.
Allahumma yârham Abah. Al-Fatihah.








