Trenggalek (25/12)—Di tengah maraknya kuliner modern, Warung Pecel “LEGEND” Bu Sihir tetap bertahan sebagai salah satu ikon kuliner tradisional di Kabupaten Trenggalek. Warung pecel ini memiliki perjalanan panjang yang sarat nilai sejarah, ketekunan, dan kesederhanaan hidup.
Warung Pecel Bu Sihir pertama kali didirikan oleh Bu Sihir dan beroperasi hingga tahun 1999. Setelah itu, estafet usaha dilanjutkan oleh Pak Hardoko, yang menjaga cita rasa serta karakter khas pecel yang telah dikenal luas oleh masyarakat. Sejak tahun 2002, warung ini menetap di lokasi yang kini dikenal banyak pelanggan, yakni di Jalan Panglima Sudirman Nomor 22, Trenggalek.
Keistimewaan Pecel Bu Sihir tidak hanya terletak pada racikan sambal kacangnya yang khas, tetapi juga pada kisah hidup pengelolanya. Pak Hardoko, yang kini berusia 56 tahun, merupakan alumni Teknik Kimia Universitas Pembangunan Nasional (UPM). Ia pernah meniti karier profesional sebagai konsultan dengan honor mencapai Rp35.000.000. Namun, ia memilih jalan hidup yang berbeda dengan melanjutkan usaha kuliner rakyat.
Menurutnya, mengelola warung pecel memberikan ketenangan yang tidak ia dapatkan di dunia profesional. Ia merasa lebih nyaman dan tenang karena tidak lagi diburu-buru oleh waktu, target, dan tekanan pekerjaan. Warung pecel menjadi ruang pengabdian sekaligus sarana menikmati hidup secara lebih sederhana dan bermakna.
Hingga kini, Warung Pecel “LEGEND” Bu Sihir tetap menjadi tujuan warga lokal maupun pendatang. Konsistensi rasa, keramahan pelayanan, dan nilai kehidupan yang menyertainya menjadikan warung ini bukan sekadar tempat makan, melainkan bagian dari sejarah kuliner dan sosial Trenggalek.








