Invisible Army dalam Perang Badar dan Invisible Warfare Era AI: Kajian Tafsir al-Tsaqafiy atas Realitas Gaib, Teknologi, dan Kebudayaan

Abstrak

Artikel ini mengkaji narasi pertolongan malaikat dalam Perang Badar dan relevansinya bagi pembacaan kritis terhadap transformasi peperangan pada era robotika militer, pesawat tanpa awak, drone, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Berangkat dari QS al-Anfāl [8]: 9–12 dan QS Āli ‘Imrān [3]: 123–126, artikel ini menggunakan pendekatan Tafsir al-Tsaqafiy untuk menghubungkan analisis tekstual dan komparatif atas tafsir klasik dengan kajian epistemologi, kebudayaan, dan kesadaran kolektif. Penafsiran al-Ṭabarī, Ibn Kathīr, dan al-Qurṭubī digunakan untuk menjelaskan kedudukan malaikat, fungsi pertolongan ilahi, ketenteraman hati, dan peneguhan orang beriman. Selanjutnya, kajian berdialog dengan literatur kontemporer mengenai sistem senjata otonom dan penggunaan AI dalam konflik bersenjata. Artikel ini berargumen bahwa narasi invisible army dapat dipahami pada dua tingkat yang berbeda tetapi saling berkaitan: realitas gaib dalam kerangka teologi Islam dan pembentukan kebudayaan iman melalui pengetahuan mengenai pertolongan ilahi. Teknologi militer modern tidak disamakan dengan malaikat, tetapi menjadi konteks pembanding untuk menelaah perubahan visibilitas kekuatan, otoritas pengetahuan, ketakutan, dan tanggung jawab manusia. Kontribusi utama artikel ini adalah mengembangkan pembacaan Tafsir al-Tsaqafiy yang mempertahankan integritas makna teologis Al-Qur’an sekaligus menghadirkan kritik etis terhadap kebudayaan perang yang semakin dimediasi oleh mesin dan algoritma.

Kata kunci: Tafsir al-Tsaqafiy; Perang Badar; malaikat; invisible army; AI militer; sistem senjata otonom; kebudayaan; kesadaran kolektif.

Pendahuluan

Perang Badar merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah awal Islam. Peristiwa ini bukan hanya dikenang sebagai kemenangan kaum Muslimin, tetapi juga dihadirkan Al-Qur’an sebagai pengalaman yang mengandung makna teologis, moral, dan historis. Dalam narasi tersebut, kemenangan tidak dijelaskan semata-mata melalui perbandingan jumlah pasukan atau kemampuan persenjataan. Al-Qur’an juga menyebut permohonan pertolongan kepada Allah, bantuan malaikat, penenteraman hati, peneguhan orang beriman, serta penegasan bahwa kemenangan berasal dari Allah (QS al-Anfāl [8]: 9–12; QS Āli ‘Imrān [3]: 123–126).

Kehadiran malaikat dalam narasi Badar menghadirkan persoalan yang menarik bagi studi Al-Qur’an. Bagaimana wahyu menjelaskan kekuatan yang tidak dapat diamati manusia secara langsung? Bagaimana pengetahuan mengenai pertolongan gaib memperoleh makna bagi komunitas yang sedang menghadapi ancaman? Bagaimana suatu narasi keagamaan membentuk keberanian, solidaritas, dan kesadaran bersama mengenai kemenangan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kajian dari persoalan tafsir mengenai malaikat menuju persoalan yang lebih luas tentang hubungan antara realitas gaib, pengetahuan keagamaan, pengalaman sejarah, dan kebudayaan.

Persoalan ini memperoleh dimensi baru ketika ditempatkan dalam konteks peperangan kontemporer. Perkembangan robotika militer, pesawat tanpa awak (uncrewed aerial vehicles/UAV), drone, sensor pengawasan, sistem komando digital, dan kecerdasan buatan telah mengubah cara kekuatan militer diproyeksikan dan dialami. Seseorang dapat merasakan ancaman serangan tanpa melihat operator yang mengendalikan perangkatnya. Sistem algoritmik dapat mengolah data dalam skala besar, menghasilkan rekomendasi, dan mendukung pengambilan keputusan militer tanpa seluruh prosesnya mudah dipahami oleh pengguna.

Namun, terdapat perbedaan ontologis yang mendasar antara malaikat dalam Al-Qur’an dan teknologi militer. Malaikat merupakan makhluk gaib dalam kerangka keyakinan Islam, sedangkan robot, drone, dan sistem AI adalah artefak teknologi yang dibuat manusia. Karena itu, istilah invisible army dalam artikel ini merujuk secara khusus pada narasi malaikat dalam Perang Badar, sementara invisible warfare digunakan sebagai istilah analitis untuk menggambarkan aspek peperangan modern yang tidak sepenuhnya terlihat oleh pihak yang mengalami dampaknya. Kedua istilah tersebut dipertemukan pada tingkat pertanyaan mengenai visibilitas, pengetahuan, persepsi, dan kebudayaan, bukan pada tingkat penyamaan identitas atau hakikat.

Kajian ini dikembangkan melalui Tafsir al-Tsaqafiy, yaitu pendekatan yang membaca teks Al-Qur’an dengan memperhatikan hubungan antara makna tekstual, tradisi penafsiran, pengalaman historis, dan pembentukan kebudayaan. Dalam artikel ini, pendekatan tersebut digunakan untuk menelaah bagaimana narasi pertolongan malaikat membentuk kerangka pemaknaan mengenai keteguhan, harapan, solidaritas, dan kemenangan, kemudian mendialogkannya secara kritis dengan budaya perang yang semakin dimediasi teknologi.

Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini mengajukan tiga pertanyaan utama. Pertama, bagaimana mufasir klasik menjelaskan kehadiran dan fungsi malaikat dalam narasi Perang Badar? Kedua, bagaimana narasi pertolongan gaib dalam ayat-ayat tersebut dapat dibaca sebagai sumber pembentukan kesadaran kolektif dan kebudayaan iman? Ketiga, bagaimana dialog dengan teknologi militer dan AI dapat memperluas refleksi Tafsir al-Tsaqafiy mengenai pengetahuan, kekuasaan, dan tanggung jawab moral manusia tanpa mereduksi realitas gaib menjadi metafora teknologi?

Metode dan Kerangka Konseptual

Artikel ini merupakan penelitian kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan pendekatan tafsir tematik (tafsīr mawḍū‘ī) dan analisis komparatif. Sumber primer berupa QS al-Anfāl [8]: 9–12 dan QS Āli ‘Imrān [3]: 123–126. Penafsiran ayat dianalisis melalui Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān karya al-Ṭabarī, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm karya Ibn Kathīr, dan al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān karya al-Qurṭubī. Ketiganya dipilih karena memberikan ruang untuk membandingkan penjelasan leksikal, riwayat, konteks ayat, dan persoalan teologis.

Analisis dilakukan melalui tiga tahapan. Tahap pertama ialah analisis tekstual terhadap istilah kunci seperti tastaghīṡūna, murdifīn, bushrā, taṭma’innah, taṡbīt, ru‘b, dan naṣr. Tahap kedua ialah perbandingan penafsiran klasik untuk mengidentifikasi persamaan, perbedaan, dan batas argumentasi yang didukung riwayat. Tahap ketiga ialah interpretasi kebudayaan dengan menghubungkan temuan tafsir pada konsep memori kolektif, pengetahuan sosial, dan etika teknologi militer. Konsep memori kolektif Maurice Halbwachs digunakan secara terbatas untuk menjelaskan bahwa ingatan mengenai peristiwa masa lalu dipelihara dan dimaknai dalam kerangka sosial suatu komunitas (Halbwachs, 1992). Kerangka ini tidak digunakan untuk membuktikan kebenaran atau ketidakbenaran realitas gaib, melainkan untuk memahami bagaimana narasi Badar memperoleh arti dalam kehidupan sosial umat Islam.

Adapun pembahasan teknologi militer merujuk pada kajian Komite Internasional Palang Merah atau International Committee of the Red Cross (ICRC), khususnya mengenai sistem senjata otonom, AI dalam konflik bersenjata, kendali manusia, dan hukum humaniter internasional (ICRC, 2021; ICRC, 2024). Literatur tersebut digunakan sebagai sumber untuk menjelaskan persoalan teknologi dan etika kontemporer, bukan sebagai sumber penafsiran Al-Qur’an.

Kajian ini mempertahankan tiga batas metodologis yang berkaitan dengan konsep malaikat dalam pandangan islam dan teknologi modern yang bukan menajdi keahlain saya. Pertama, malaikat tidak direduksi menjadi simbol psikologis atau teknologi yang belum ditemukan. Sebab. dalam kerangka Islam, malaikat merupakan bagian dari realitas gaib yang diberitakan wahyu. Analisis kebudayaan menjelaskan fungsi sosial narasi tersebut, bukan menggantikan klaim teologisnya.

Kedua, robot, drone, dan AI tidak dipahami sebagai bentuk baru dari invisible army. Teknologi modern memiliki mekanisme material dan operasional yang dapat diperiksa secara empiris. Kesamaan keduanya terbatas pada pertanyaan mengenai visibilitas kekuatan, pengetahuan, persepsi, dan dampak. Ketiga, narasi Badar tidak digunakan sebagai legitimasi universal bagi peperangan kontemporer. Ayat-ayat tersebut memiliki konteks historis dan teologis tertentu. Penerapan nilai keberanian, solidaritas, dan keteguhan dalam situasi modern membutuhkan pertimbangan etis, historis, dan hukum yang memadai.

Dengan pembagian tersebut, Tafsir al-Tsaqafiy berfungsi sebagai kerangka dialog antara teks, tradisi penafsiran, dan kebudayaan. Ia tidak mengubah pernyataan teologis menjadi klaim empiris, tetapi juga tidak membatasi studi tafsir pada penjelasan linguistik yang terlepas dari kehidupan manusia. Berkaitan dengan batas-batas ini bukan kemudian dimaknai menjadi hambatan bagi dialog antara tafsir dan teknologi. Sebaliknya, pembedaan yang jelas memungkinkan kajian menghasilkan argumentasi yang lebih kuat, menghindari anakronisme, dan menjaga tanggung jawab ilmiah.

Narasi Invisible Army dalam QS al-Anfāl [8]: 9–10

QS al-Anfāl [8]: 9 menyatakan:

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُم بِأَلْفٍ مِّنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ

“(Ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu Dia mengabulkan permohonanmu: ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.’”

Ayat ini membangun rangkaian naratif yang dimulai dari permohonan manusia, dilanjutkan dengan respons ilahi, kemudian diikuti pemberitaan tentang bantuan seribu malaikat. Susunan tersebut penting karena menempatkan malaikat dalam konteks pengalaman manusia yang sedang menghadapi ancaman dan membutuhkan pertolongan. Al-Ṭabarī menafsirkan tastaghīṡūna rabbakum sebagai permohonan perlindungan kepada Allah dari musuh dan doa agar memperoleh kemenangan. Ia menjelaskan murdifīn sebagai malaikat yang datang secara berurutan atau mengikuti satu sama lain. Al-Ṭabarī juga mengutip riwayat mengenai doa Nabi Muhammad ketika menghadapi pasukan Quraisy dalam jumlah yang lebih besar daripada pasukan Muslim (al-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān, tafsir QS al-Anfāl [8]: 9).

Penjelasan tersebut memperlihatkan bahwa narasi pertolongan malaikat tidak terpisah dari pengalaman historis kaum Muslimin. Dalam teks dan riwayat tafsir, kondisi rentan, doa, dan pertolongan Allah berada dalam satu rangkaian pemaknaan. Akan tetapi, hubungan tersebut tidak berarti bahwa malaikat hanya berfungsi sebagai simbol psikologis. Dalam kerangka penafsiran klasik, keberadaan malaikat diterima sebagai bagian dari realitas gaib yang dinyatakan wahyu.

Ibn Kathīr juga mengutip riwayat tentang doa Nabi di Badar dan dukungan Abu Bakar yang menenangkan beliau agar tetap yakin pada janji Allah. Riwayat tersebut menampilkan hubungan antara keteguhan spiritual pemimpin dan dukungan interpersonal dalam komunitas (Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS al-Anfāl [8]: 9). Dari perspektif kebudayaan, kisah ini dapat dibaca sebagai model tindakan yang diwariskan: manusia berdoa ketika menghadapi ancaman, memberikan dukungan kepada sesama, dan mempertahankan keyakinan di tengah ketidakpastian. Ayat 10 memberikan petunjuk penting mengenai fungsi pemberitaan bantuan tersebut:

وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَىٰ وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِ قُلُوبُكُمْ ۚ وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِندِ اللَّهِ

“Allah tidak menjadikannya melainkan sebagai kabar gembira dan agar hati kamu menjadi tenteram karenanya. Kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah.”

Kata bushrā menunjukkan kabar yang menggembirakan, sedangkan li-taṭma’inna bihi qulūbukum menegaskan fungsi pemberitaan tersebut bagi ketenteraman hati. Ayat ini dengan demikian tidak hanya berbicara tentang bantuan, tetapi juga menjelaskan arti bantuan itu bagi kesadaran orang beriman. Dalam perspektif Tafsir al-Tsaqafiy, kabar tentang pertolongan gaib menyediakan kerangka pemaknaan ketika komunitas menghadapi ancaman yang tidak sepenuhnya dapat mereka kendalikan. Ketenteraman tidak harus dipahami sebagai hilangnya semua rasa takut, tetapi sebagai kemantapan yang memungkinkan manusia mempertahankan orientasi dan bertindak di tengah ketidakpastian.

Poin terpenting ayat ini terletak pada penutupnya, kemenangan berasal dari Allah. Penegasan tersebut membatasi kemungkinan pembacaan yang menjadikan jumlah malaikat sebagai formula mekanis kemenangan. Pertolongan ilahi tidak dapat direduksi menjadi kalkulasi kuantitatif mengenai jumlah pasukan. Dalam narasi Al-Qur’an, malaikat berada dalam kerangka kehendak Allah, sedangkan kemenangan tetap dinisbatkan kepada-Nya.

Peneguhan dan Ketakutan dalam QS al-Anfāl [8]: 11–12

QS al-Anfāl [8]: 11 menggambarkan turunnya rasa kantuk sebagai ketenteraman, air dari langit untuk penyucian, penghilangan gangguan setan, penguatan hati, dan peneguhan kaki. Ayat ini memperluas gambaran pertolongan dari penyebutan malaikat menuju kondisi tubuh, lingkungan, dan kesiapan manusia menghadapi pertempuran.

Dari perspektif Tafsir al-Tsaqafiy, ayat tersebut menunjukkan bahwa pengalaman pertolongan dalam narasi Badar memiliki dimensi yang beragam. Pertolongan tidak hanya dinarasikan dalam hubungan antara manusia dan makhluk gaib, tetapi juga melalui keadaan yang berkaitan dengan kebutuhan fisik dan keteguhan batin. Air, ketenteraman, dan kesiapan menghadapi perang hadir sebagai bagian dari narasi yang sama. Namun, istilah invisible army perlu digunakan secara konsisten. Air, rasa kantuk, dan keteguhan bukanlah malaikat. Karena itu, lebih tepat jika ayat 11 dipahami sebagai bagian dari gambaran lebih luas mengenai pertolongan ilahi dalam Perang Badar, bukan sebagai perluasan literal dari pengertian pasukan malaikat.

QS al-Anfāl [8]: 12 kemudian menyebut perintah Allah kepada malaikat:

إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah orang-orang yang telah beriman.’”

Kata faṡabbitū berasal dari akar kata yang mengandung makna meneguhkan atau membuat tetap teguh. Al-Qurṭubī membahas perintah tersebut dalam kaitannya dengan peneguhan orang-orang beriman dan mencatat penjelasan yang berkaitan dengan penguatan mereka dalam pertempuran (al-Qurṭubī, al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, tafsir QS al-Anfāl [8]: 12). Ibn Kathīr juga merekam beberapa penjelasan dari generasi awal mengenai bentuk peneguhan tersebut, termasuk bantuan dan penguatan kaum Muslimin (Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS al-Anfāl [8]: 12).

Ayat yang sama menyebut ru‘b, yaitu rasa gentar atau takut yang dimasukkan ke dalam hati pihak lawan. Narasi tersebut dengan demikian menempatkan peperangan dalam dimensi material sekaligus psikologis. Kekuatan bukan hanya berhubungan dengan keberadaan pasukan, tetapi juga dengan keadaan batin, keteguhan, dan rasa takut.

Pembacaan kebudayaan terhadap ayat ini menghasilkan satu proposisi penting: keberanian dalam narasi Badar tidak dibangun melalui penghapusan seluruh rasa takut, tetapi melalui peneguhan yang memungkinkan orang beriman tetap bertindak dalam situasi yang mengancam. Dalam kehidupan sosial, nilai tersebut dapat menjadi sumber ketahanan komunitas, solidaritas, dan dukungan timbal balik. Meskipun demikian, proposisi ini harus dibedakan dari klaim empiris tentang perilaku semua umat Islam. Ayat memberikan landasan normatif dan naratif; sedangkan bagaimana nilai tersebut diterima, dipraktikkan, atau bahkan diselewengkan dalam sejarah merupakan persoalan yang memerlukan penelitian lebih lanjut.

Badar sebagai Memori Kolektif dalam QS Āli ‘Imrān [3]: 123–126

QS Āli ‘Imrān [3]: 123 menyatakan:

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Sungguh, Allah telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah. Maka bertakwalah kepada Allah agar kamu bersyukur.”

Ayat ini menyajikan Badar sebagai peristiwa kemenangan sekaligus pengingat mengenai keadaan kaum Muslimin yang terbatas. Al-Ṭabarī menjelaskan adhillah dalam konteks ini sebagai keadaan jumlah yang sedikit dan lemahnya perlindungan dibandingkan dengan pihak lawan. Ia kemudian menghubungkan pengalaman kemenangan tersebut dengan perintah bertakwa dan bersyukur (al-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān, tafsir QS Āli ‘Imrān [3]: 123).

Struktur ayat ini penting bagi pembentukan memori kolektif. Badar tidak hanya dikenang sebagai kemenangan, tetapi juga sebagai pengalaman ketika kaum Muslimin berada dalam keadaan lemah. Ingatan itu kemudian diberi arah moral melalui perintah bertakwa dan bersyukur.

Maurice Halbwachs menjelaskan bahwa ingatan kolektif dipelihara melalui kerangka sosial yang memungkinkan kelompok mengorganisasi dan memaknai pengalaman masa lalu (Halbwachs, 1992). Dalam kerangka ini, narasi Badar dapat dipahami sebagai ingatan keagamaan yang membentuk identitas komunitas bukan hanya melalui peristiwa yang diingat, melainkan juga melalui makna yang dilekatkan pada peristiwa tersebut. Namun, pendekatan memori kolektif tidak digunakan untuk membuktikan realitas malaikat. Ia menjelaskan bagaimana narasi mengenai peristiwa yang diyakini sebagai bagian dari sejarah suci dipelihara dan memperoleh fungsi sosial. Kebenaran teologis tentang malaikat tetap berada dalam kerangka wahyu dan tradisi keilmuan Islam.

QS Āli ‘Imrān [3]: 124–125 menyebut bantuan tiga ribu dan lima ribu malaikat. Hubungan ayat-ayat ini dengan Badar dan Uhud dibahas secara berbeda oleh para mufasir. Ibn Kathīr mencatat dua pendapat mengenai konteks janji bantuan tersebut. Salah satu pendapat menghubungkannya dengan Badar, sedangkan pendapat lain mengaitkannya dengan konteks persiapan menghadapi Uhud (Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS Āli ‘Imrān [3]: 124–125).

Perbedaan tersebut mengingatkan bahwa penelitian tafsir harus membedakan antara teks Al-Qur’an, riwayat yang menjelaskan konteksnya, dan rekonstruksi kronologis peneliti. Tidak tepat jika jumlah seribu, tiga ribu, dan lima ribu malaikat langsung disusun sebagai tahapan kronologis yang disepakati tanpa menjelaskan perbedaan penafsiran. Ayat 125 juga menyebut kesabaran dan ketakwaan sebagai kondisi dalam janji bantuan tersebut. Sementara itu, ayat 126 kembali menegaskan bahwa bantuan dijadikan sebagai kabar gembira dan penenteram hati, sedangkan kemenangan berasal dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Rangkaian ayat ini membangun pemaknaan kemenangan yang tidak hanya bersifat militer. Kemenangan menjadi pengingat akan keterbatasan manusia, tuntutan kesabaran, dan kewajiban moral. Dalam perspektif Tafsir al-Tsaqafiy, ingatan kolektif tentang Badar berpotensi membentuk kebudayaan syukur dan keteguhan, tetapi sekaligus menjadi kritik terhadap kesombongan yang menganggap keberhasilan sebagai hasil kekuatan kelompok semata.

Invisible Warfare Era AI: Transformasi Visibilitas Kekuatan

Peperangan kontemporer memperlihatkan perubahan hubungan antara manusia, mesin, dan medan pertempuran. Sistem militer modern dapat mencakup drone yang dikendalikan dari jarak jauh, pesawat tanpa awak, robot darat, sistem pengawasan, perangkat pengolahan data, dan teknologi AI yang membantu pengambilan keputusan.

ICRC menjelaskan bahwa AI dan pembelajaran mesin dapat digunakan dalam berbagai fungsi militer, termasuk navigasi, pengawasan, pengolahan informasi, dan sistem robotik. Akan tetapi, tidak semua drone menggunakan AI, dan tidak semua sistem militer yang menggunakan AI merupakan senjata otonom. Perbedaan penting terletak pada fungsi yang dijalankan sistem serta tingkat kendali manusia terhadap keputusan penggunaan kekuatan (ICRC, 2024).

Sistem senjata otonom perlu dibedakan dari perangkat yang sekadar dikendalikan dari jarak jauh. Dalam pengertian yang digunakan ICRC, sistem senjata otonom dapat memilih dan menyerang sasaran tanpa intervensi manusia lebih lanjut setelah diaktifkan. Karakteristik tersebut menimbulkan persoalan mengenai prediktabilitas, kendali manusia, perlindungan warga sipil, dan pertanggungjawaban atas penggunaan kekuatan (ICRC, 2021).

Perubahan ini relevan bagi kajian invisible warfare karena sebagian kekuatan militer tidak lagi hadir secara fisik di tempat dampaknya dirasakan. Operator dapat berada jauh dari wilayah operasi, sedangkan sensor dan jaringan digital menghubungkan informasi dari berbagai lokasi. Dalam sistem tertentu, proses komputasi yang mendukung keputusan juga tidak sepenuhnya transparan bagi penggunanya.

Di sinilah pertanyaan kebudayaan muncul: bagaimana manusia membangun kepercayaan terhadap kekuatan yang tidak dilihat secara langsung? Bagaimana rasa takut dibentuk oleh ancaman yang dapat datang dari jarak jauh? Bagaimana keputusan mengenai kehidupan manusia memperoleh legitimasi ketika sebagian prosesnya dimediasi oleh algoritma?

Pertanyaan tersebut memperlihatkan relevansi dialog dengan narasi Badar, tetapi tidak menjadikan teknologi modern sebagai padanan malaikat. Dalam narasi Al-Qur’an, malaikat merupakan bagian dari realitas gaib yang diberitakan wahyu. Dalam peperangan modern, kekuatan yang tidak terlihat secara langsung tetap merupakan fenomena teknologi yang harus dianalisis melalui bukti, spesifikasi, cara kerja, dan kondisi penggunaannya.

Dengan demikian, istilah invisible warfare bukan kategori teologis, melainkan konsep analitis untuk membaca transformasi pengalaman perang. Perbandingan dilakukan pada persoalan visibilitas dan pengetahuan, bukan pada hakikat kekuatan yang dibandingkan.

Dari Ketenteraman Hati menuju Psikologi Ketakutan Digital

QS al-Anfāl [8]: 10 menjelaskan bahwa kabar mengenai bantuan malaikat menjadi sumber kegembiraan dan ketenteraman hati. QS al-Anfāl [8]: 12 menyebut peneguhan orang beriman dan rasa gentar dalam hati pihak lawan. Kedua ayat tersebut memperlihatkan bahwa narasi Badar tidak memisahkan pertempuran dari dimensi psikologis manusia.

Dalam peperangan modern, pengalaman psikologis juga dapat dibentuk oleh sistem pengawasan dan serangan jarak jauh. Kehadiran drone di udara, misalnya, dapat menimbulkan perasaan diawasi atau terancam, meskipun operatornya tidak terlihat. Ketidakpastian mengenai waktu serangan dan identitas pihak yang mengendalikan perangkat dapat memperpanjang rasa takut. Namun, saya menyadari bahwa analisis ini harus dilakukan secara hati-hati. Sebab, ketakutan yang muncul dari ancaman teknologi sebenarnya tidak identik dengan ru‘b dalam QS al-Anfāl [8]: 12. Ayat tersebut berada dalam narasi teologis tentang tindakan Allah dalam konteks perang, sedangkan respons psikologis terhadap drone dan sistem pengawasan merupakan fenomena empiris yang perlu diteliti melalui data dan kajian khusus.

Kontribusi Tafsir al-Tsaqafiy terletak pada kemampuannya menghubungkan kedua persoalan tanpa mencampuradukkan keduanya. Ayat-ayat Badar menyediakan kerangka untuk merenungkan bagaimana ketakutan, ketenteraman, dan keteguhan memperoleh makna dalam kehidupan manusia. Sementara itu, penelitian kontemporer mengenai peperangan digital dapat menjelaskan bagaimana teknologi mengubah pengalaman ancaman dan rasa aman.

Perbandingan ini juga membuka kritik terhadap kebudayaan perang yang menganggap keberhasilan teknis sebagai ukuran tunggal. Kemampuan mengawasi dan menyerang dari jarak jauh tidak otomatis menjadikan tindakan militer lebih adil, lebih manusiawi, atau lebih dapat dipertanggungjawabkan.

AI Militer dan Krisis Tanggung Jawab Moral

Salah satu persoalan penting dalam penggunaan AI militer adalah hubungan antara kecepatan pengolahan informasi dan kemampuan manusia mempertimbangkan akibat keputusan. Sistem AI dapat membantu mengolah data dan memberikan rekomendasi, tetapi keluaran algoritmik tidak dengan sendirinya menjamin ketepatan, keadilan, atau kepatuhan terhadap hukum.

ICRC menekankan pentingnya mempertahankan kendali dan penilaian manusia dalam penggunaan teknologi yang dapat mengakibatkan kematian, cedera, atau kerusakan terhadap objek sipil. Dalam konteks hukum humaniter internasional, keputusan mengenai serangan harus mempertimbangkan prinsip pembedaan antara sasaran militer dan warga sipil, proporsionalitas, serta langkah-langkah pencegahan yang layak (ICRC, 2024).

Persoalan ini dapat didialogkan dengan dimensi etis narasi Badar. QS Āli ‘Imrān [3]: 123–126 tidak hanya mengingatkan tentang kemenangan, tetapi juga menghubungkannya dengan takwa, syukur, dan pengakuan bahwa kemenangan berasal dari Allah. Secara interpretatif, rangkaian tersebut dapat menjadi dasar untuk mengkritik kebudayaan yang mengagungkan superioritas teknis tanpa mempertimbangkan tanggung jawab moral.

Dalam perspektif Tafsir al-Tsaqafiy, teknologi tidak pernah berdiri hanya sebagai perangkat netral dalam kehidupan sosial. Penggunaan teknologi selalu terkait dengan tujuan, nilai, struktur kekuasaan, dan keputusan manusia. Karena itu, pertanyaan mengenai AI militer bukan hanya apakah mesin mampu mengenali sasaran atau memproses data lebih cepat daripada manusia, melainkan juga siapa yang menetapkan tujuan, siapa yang mengawasi, siapa yang bertanggung jawab, dan bagaimana kehidupan manusia dilindungi.

Meskipun demikian, ayat-ayat Badar tidak dapat digunakan secara langsung untuk menetapkan hukum bagi setiap jenis sistem senjata modern. Penilaian hukum membutuhkan analisis fikih yang relevan, hukum humaniter internasional, serta karakteristik dan kondisi penggunaan teknologi tertentu. Al-Qur’an memberikan orientasi teologis dan moral, sedangkan penerapan normatifnya membutuhkan proses argumentasi yang bertanggung jawab.

Tafsir al-Tsaqafiy dan Pembentukan Kebudayaan Teknologi

Berdasarkan pembacaan ayat-ayat Badar dan dialog dengan teknologi militer, artikel ini mengusulkan empat dimensi kebudayaan yang dapat dianalisis melalui Tafsir al-Tsaqafiy. Pertama, kebudayaan harapan. Narasi pertolongan Allah memberi kerangka pemaknaan ketika komunitas menghadapi ancaman dan keterbatasan. Dalam konteks kontemporer, nilai ini dapat menjadi sumber refleksi mengenai bagaimana masyarakat menghadapi ketidakpastian, tanpa mengubah keyakinan teologis menjadi jaminan kemenangan dalam setiap konflik.

Kedua, kebudayaan keteguhan. Istilah taṡbīt menempatkan peneguhan sebagai unsur penting dalam narasi Badar. Dalam kehidupan sosial, nilai ini dapat dikembangkan menjadi kesadaran bahwa keteguhan memerlukan orientasi moral, dukungan komunitas, dan kemampuan menghadapi tekanan. Dalam lingkungan yang dimediasi teknologi, keteguhan juga berarti mempertahankan penilaian etis ketika keputusan dipercepat oleh sistem digital.

Ketiga, kebudayaan solidaritas. Riwayat tentang doa Nabi dan dukungan Abu Bakar menggambarkan pentingnya relasi interpersonal dalam situasi krisis. Model tersebut membuka ruang untuk mengkaji solidaritas sebagai unsur pembentuk ketahanan komunitas. Dalam peperangan modern, persoalan solidaritas juga meliputi kepedulian terhadap warga sipil dan kelompok yang mengalami dampak konflik, termasuk mereka yang tidak memiliki akses untuk memahami atau mengendalikan teknologi yang mengancam keselamatan mereka.

Keempat, kebudayaan tanggung jawab. Penegasan bahwa kemenangan berasal dari Allah mengingatkan komunitas agar tidak menganggap keberhasilan sebagai alasan untuk menyombongkan diri. Dalam konteks teknologi, orientasi ini dapat dikembangkan menjadi kritik terhadap anggapan bahwa efisiensi, kecepatan, dan keunggulan teknis merupakan pembenaran yang cukup bagi penggunaan kekuatan. Penilaian etis tetap harus mempertimbangkan akibat terhadap kehidupan manusia.

Keempat dimensi tersebut merupakan proposisi interpretatif yang diturunkan dari pembacaan ayat dan tradisi tafsir. Klaim bahwa nilai-nilai itu benar-benar membentuk perilaku masyarakat pada periode tertentu membutuhkan penelitian historis atau empiris tersendiri. Dengan membedakan keduanya, Tafsir al-Tsaqafiy dapat mempertahankan kedalaman interpretasi tanpa mengajukan klaim sosial yang tidak didukung bukti.

Kesimpulan

Kajian terhadap QS al-Anfāl [8]: 9–12 dan QS Āli ‘Imrān [3]: 123–126 menunjukkan bahwa narasi invisible army dalam Perang Badar mencakup lebih dari sekadar pemberitaan mengenai jumlah malaikat. Narasi tersebut menghubungkan permohonan pertolongan, ketenteraman hati, peneguhan orang beriman, pengalaman kelemahan, kesabaran, ketakwaan, dan syukur. Penafsiran al-Ṭabarī, Ibn Kathīr, dan al-Qurṭubī membantu menjelaskan dimensi tekstual, riwayat, dan teologis dari hubungan tersebut.

Melalui Tafsir al-Tsaqafiy, narasi Badar dapat dibaca sebagai sumber pembentukan kebudayaan iman dan kesadaran kolektif. Pertolongan gaib menjadi bagian dari kerangka pemaknaan yang dapat diwariskan dan diaktualisasikan dalam bentuk harapan, keteguhan, solidaritas, serta pengakuan terhadap keterbatasan manusia. Akan tetapi, fungsi kebudayaan tersebut harus dibedakan dari klaim ontologis mengenai malaikat.

Dialog dengan invisible warfare era AI memperlihatkan perubahan cara kekuatan militer hadir dan dialami. Drone, robot, sensor, dan sistem algoritmik memungkinkan ancaman dan keputusan militer dimediasi oleh perangkat yang tidak selalu terlihat atau dipahami sepenuhnya oleh pihak yang terkena dampaknya. Perubahan ini menimbulkan persoalan baru mengenai kepercayaan, ketakutan, transparansi, kendali manusia, dan tanggung jawab moral.

Artikel ini tidak menyamakan malaikat dengan teknologi militer. Sebaliknya, ia mempertemukan keduanya dalam pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana manusia memahami kekuatan yang tidak sepenuhnya terlihat, bagaimana pengetahuan tentang kekuatan itu membentuk kesadaran kolektif, dan bagaimana tanggung jawab moral dipertahankan ketika pengalaman manusia semakin dimediasi oleh sistem yang kompleks.

Kontribusi utama kajian ini adalah mengembangkan Tafsir al-Tsaqafiy sebagai pendekatan yang menghubungkan pembacaan teks Al-Qur’an, tradisi tafsir, pembentukan kebudayaan, dan kritik terhadap teknologi kontemporer. Dalam kerangka ini, invisible army tetap berada dalam cakrawala realitas gaib sebagaimana dipahami dalam teologi Islam, sedangkan invisible warfare menjadi konteks modern untuk mengkaji perubahan visibilitas kekuatan dan tanggung jawab manusia.

Dengan demikian, relevansi narasi Badar bagi era AI tidak terletak pada klaim bahwa teknologi modern mengulang atau menggantikan peran malaikat. Relevansinya terletak pada kesempatan untuk merefleksikan kembali makna keteguhan, harapan, kemenangan, dan tanggung jawab di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat. Pertanyaan akhirnya bukan hanya apa yang dapat dilakukan mesin, tetapi juga nilai apa yang harus membimbing manusia ketika mesin ikut menentukan cara peperangan dijalankan.

Daftar Pustaka

Al-Qur’an al-Karim.

Al-Qurṭubī, Muḥammad ibn Aḥmad. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Tafsir QS al-Anfāl [8]: 9–12 dan QS Āli ‘Imrān [3]: 123–126. Rujukan teks digital: https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/qortobi/

Halbwachs, Maurice. 1992. On Collective Memory. Edited and translated by Lewis A. Coser. Chicago: University of Chicago Press.

International Committee of the Red Cross (ICRC). 2021. “ICRC Position on Autonomous Weapon Systems.” Geneva: ICRC. https://www.icrc.org/en/document/icrc-position-autonomous-weapon-systems.

International Committee of the Red Cross (ICRC). 2024. “Artificial Intelligence and Machine Learning in Armed Conflict: A Human-Centred Approach.” International Review of the Red Cross. https://international-review.icrc.org/articles/ai-and-machine-learning-in-armed-conflict-a-human-centred-approach-913.

Ibn Kathīr, Ismā‘īl ibn ‘Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Tafsir QS al-Anfāl [8]: 9–12 dan QS Āli ‘Imrān [3]: 123–126. Rujukan teks digital: https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/

Al-Ṭabarī, Muḥammad ibn Jarīr. Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān. Tafsir QS al-Anfāl [8]: 9–12 dan QS Āli ‘Imrān [3]: 123–126. Rujukan teks digital: https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/tabary/

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *