Perjalanan penelitian membuka peluang pengembangan Maliki Water, produk kesehatan, dan ekosistem bisnis kampus
Perjalanan penelitian tentang Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) membawa saya pada sebuah kesadaran bahwa penguatan ekonomi masyarakat tidak dapat dilakukan secara parsial. Desa membutuhkan jejaring, perguruan tinggi membutuhkan mitra industri, sementara dunia usaha membutuhkan inovasi dan pasar. Ketiganya sebenarnya memiliki kekuatan yang berbeda, tetapi dapat dipertemukan dalam sebuah ekosistem kolaborasi. Dari proses penelitian itulah saya kemudian berkesempatan bertemu dengan H. Sidik dan berdiskusi mengenai kemungkinan kerja sama antara dunia usaha dengan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pertemuan tersebut membuka pembicaraan yang lebih luas mengenai hilirisasi hasil penelitian UIN Maliki Malang, khususnya penelitian di bidang kefarmasian, kesehatan, jamu, herbal, dan produk berbasis bahan alam. Respons yang diberikan sangat positif. Hasil penelitian yang selama ini berada dalam ruang akademik memiliki kemungkinan untuk dikembangkan menjadi produk melalui dukungan teknologi produksi, standardisasi, sertifikasi, pengemasan, dan jaringan pemasaran industri. Dengan demikian, penelitian tidak berhenti pada publikasi, tetapi dapat bergerak menjadi inovasi yang memberikan manfaat sosial sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Salah satu pembicaraan yang menarik adalah kemungkinan pengembangan kembali Maliki Water melalui kerja sama maklon dengan industri. Dalam gagasan tersebut, pihak industri dapat menjalankan fungsi produksi, sedangkan UIN Maliki Malang memiliki posisi sebagai pemilik merek sekaligus memiliki kekuatan pasar. Mengenai skema pembagian hasil, H. Sidik menyampaikan bahwa persentasenya perlu dibicarakan dan dimusyawarahkan lebih lanjut. Bagi saya, justru hal tersebut menunjukkan bahwa peluang kerja sama ini membutuhkan kajian yang serius dan profesional, bukan sekadar kesepakatan informal.
Ketika kemudian saya melihat lebih dekat ekosistem JiWater dan manufaktur Kosme Nutrition, saya semakin memahami bahwa sebuah produk air minum tidak sesederhana air yang dimasukkan ke dalam botol. Di belakangnya terdapat sumber bahan baku, teknologi pengolahan, quality control, standardisasi, kemasan, distribusi, branding, pemasaran, dan manajemen rantai pasok. Dari sini saya melihat bahwa apabila Maliki Water hendak dikembangkan secara lebih serius, yang perlu dibangun bukan hanya produknya, tetapi sistem bisnis dan tata kelola produknya.
Pengalaman tersebut membawa saya kembali pada posisi BLU Manajemen UIN Maliki Malang. Sebagai perguruan tinggi yang memiliki berbagai aset akademik, hasil penelitian, sumber daya manusia, brand, jejaring alumni, mahasiswa, pesantren, dan pasar institusional, UIN Maliki Malang sesungguhnya mempunyai modal yang cukup besar untuk membangun unit-unit usaha berbasis pengetahuan. Persoalannya adalah bagaimana seluruh potensi tersebut dikelola secara profesional, produktif, akuntabel, dan tetap berada dalam koridor utama perguruan tinggi.
Karena itu, kolaborasi dengan industri perlu dipandang sebagai salah satu instrumen strategis penguatan BLU Manajemen, bukan sekadar kerja sama bisnis sesaat. Industri dapat menyediakan kapasitas produksi dan teknologi; perguruan tinggi menyediakan pengetahuan, inovasi, sumber daya manusia, serta akses pasar; sementara BLU menjadi ruang kelembagaan yang memastikan seluruh potensi tersebut dikelola secara profesional dan memberikan nilai tambah bagi institusi.
Dalam konteks ini, Maliki Water dapat menjadi pilot project yang sangat menarik. Produk tersebut dapat dikembangkan bukan hanya sebagai air minum dalam kemasan, tetapi sebagai contoh bagaimana sebuah aset dan brand perguruan tinggi dapat dikelola melalui model kemitraan industri. Jika berhasil, model yang sama dapat diperluas kepada produk herbal, jamu, kosmetik, hasil penelitian kefarmasian, pangan, teknologi tepat guna, maupun berbagai inovasi lain yang lahir dari laboratorium dan pusat penelitian UIN Maliki Malang.
Lebih jauh lagi, kolaborasi seperti ini dapat mengubah cara kita memandang BLU Manajemen. BLU tidak semestinya hanya dipahami sebagai perangkat administratif untuk mengelola penerimaan dan pengeluaran perguruan tinggi. BLU dapat dikembangkan menjadi institutional business platform yang menghubungkan aset akademik, inovasi, penelitian, industri, pasar, dan kemanfaatan sosial. Dengan tata kelola yang baik, pendapatan yang dihasilkan dapat kembali memperkuat pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, kesejahteraan sivitas akademika, dan pengembangan institusi.
Karena itu, pengalaman dari penelitian KDMP ini menurut saya layak menjadi bahan pertimbangan bagi para pengambil kebijakan. Peluang kerja sama dengan dunia industri sebaiknya tidak berhenti pada satu produk atau satu perusahaan. Perlu dibangun kebijakan institusional yang mendorong terbentuknya ekosistem hilirisasi riset UIN Maliki Malang. Kampus dapat memetakan seluruh hasil penelitian yang memiliki potensi komersialisasi, mengidentifikasi mitra industri, melakukan studi kelayakan, membangun skema business partnership, serta menyusun mekanisme pembagian manfaat yang transparan dan akuntabel.
Pada saat yang sama, diperlukan keberanian untuk mengubah paradigma pengelolaan aset perguruan tinggi. Aset kampus bukan hanya gedung dan tanah. Aset kampus juga berupa ilmu pengetahuan, hasil penelitian, merek, jaringan alumni, mahasiswa, laboratorium, kepakaran dosen, dan kepercayaan masyarakat. Semua itu mempunyai nilai yang dapat dikembangkan sepanjang dikelola dengan prinsip tata kelola yang profesional.
Perjalanan penelitian KDMP akhirnya membawa saya pada kesimpulan bahwa ekonomi masyarakat desa dan manajemen BLU perguruan tinggi ternyata memiliki persoalan yang serupa: bagaimana mengubah potensi menjadi nilai tambah. Desa memiliki sumber daya tetapi membutuhkan teknologi dan pasar. Kampus memiliki ilmu dan inovasi tetapi membutuhkan mekanisme hilirisasi. Industri memiliki teknologi dan pasar tetapi membutuhkan inovasi. Ketiganya dapat bertemu dalam sebuah model kolaborasi.
Maka, peluang kerja sama Maliki Water–industri, pengembangan produk kesehatan dan herbal hasil penelitian, serta berbagai kemungkinan hilirisasi lainnya sebaiknya dilihat sebagai bagian dari agenda yang lebih besar: membangun BLU Manajemen UIN Maliki Malang yang produktif, inovatif, kolaboratif, dan mampu menghasilkan nilai tambah dari kekuatan akademiknya sendiri.
Bagi saya, inilah pelajaran penting dari perjalanan penelitian ini:
Penelitian tidak cukup hanya menghasilkan pengetahuan. Perguruan tinggi perlu membangun jalan agar pengetahuan menjadi inovasi, inovasi menjadi produk, produk menjadi nilai ekonomi, dan nilai ekonomi kembali menjadi kemanfaatan bagi pendidikan, masyarakat, dan peradaban.
Karena itu, dukungan kebijakan terhadap kolaborasi kampus–industri bukan semata-mata investasi pada sebuah produk seperti Maliki Water. Ia adalah investasi pada masa depan kemandirian dan profesionalisme BLU UIN Maliki Malang.
Dari KDMP kita belajar membangun ekonomi masyarakat.
Dari industri kita belajar membangun nilai tambah.
Dari penelitian kita memiliki pengetahuan.
Dan melalui BLU Manajemen, semuanya dapat dipertemukan menjadi kekuatan kelembagaan.
Saatnya ilmu tidak hanya diajarkan dan diteliti, tetapi juga dihilirkan menjadi kemanfaatan.