Dari Cordoba di Banyuangi ke Cordova di Andalusia: Silaturrahim membangun Jejaring Ilmu, dan Ikhtiar Membangun Peradaban

Hari Minggu biasanya menjadi ruang jeda. Ketika banyak orang kantoran memanfaatkan hari libur untuk beristirahat, berkumpul bersama keluarga, atau sekadar melakukan rekreasi untuk melepas penat setelah menjalani rutinitas selama sepekan, saya justru memanfaatkan waktu tersebut untuk melakukan perjalanan silaturrahim ke beberapa pesantren dan perguruan tinggi di Banyuwangi.

Bagi saya, silaturrahim bukan sekadar berkunjung. Ia merupakan bagian dari ikhtiar membangun hubungan, membuka ruang dialog, mengenal pengalaman lembaga lain, dan memperluas jejaring akademik. Karena itu, perjalanan ke Banyuwangi saya manfaatkan untuk melihat beberapa lembaga pendidikan sekaligus membangun komunikasi dengan para pengelolanya. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah Universitas Islam Cordoba Banyuwangi.

Kampus ini memberikan kesan tersendiri. Bangunannya cukup representatif dengan dominasi warna putih dan merah marun, dihiasi ornamen geometris bercorak Islam yang memberikan identitas pada arsitekturnya. Gedung-gedungnya mengelilingi ruang terbuka yang cukup luas, dengan halaman yang dihiasi rumput hijau, pepohonan, dan jalur pedestrian. Yang menarik, ruang luar kampus tampak tidak hanya berfungsi sebagai halaman, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan. Pada saat kunjungan, terlihat beberapa orang duduk bersama di atas tikar, berbincang, makan, dan menemani anak-anak bermain. Suasananya terasa lebih sebagai ruang sosial yang hidup daripada sekadar lingkungan akademik yang formal. Di tengah suasana Banyuwangi yang hijau dan relatif tenang, bangunan, ruang terbuka, dan lingkungan kampus tersebut memberikan kesan bahwa pendidikan dapat berlangsung dalam suasana yang akrab dan manusiawi.

Namun, perhatian saya kemudian tertuju pada nama yang terpampang di bangunan tersebut: Universitas Islam Cordoba. Ada dua kata yang menarik perhatian saya, yaitu “UI” dan “Cordoba”. Keduanya membawa saya kepada perjalanan sejarah pendidikan dan peradaban yang jauh lebih panjang.

Ketika membaca “UI”, saya segera teringat kepada UII, UI, dan UIN. Tiga nama tersebut sesungguhnya dapat dibaca sebagai bagian dari perjalanan panjang pendidikan tinggi di Indonesia. Universitas Islam Indonesia atau UII bermula dari Sekolah Tinggi Islam yang didirikan di Jakarta pada 8 Juli 1945, beberapa minggu sebelum Indonesia merdeka. Pada 1946 kegiatan STI berkembang di Yogyakarta dan kemudian pada 1947 berubah menjadi Universitas Islam Indonesia. Salah satu perkembangan terpenting dalam sejarahnya terjadi pada 1950 ketika Fakultas Agama UII menjadi bagian dari proses lahirnya Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri, yang kemudian berkembang menjadi tradisi IAIN dan selanjutnya UIN.

Sementara itu, Universitas Indonesia atau UI memiliki akar sejarah yang lebih tua, antara lain melalui perkembangan pendidikan kedokteran sejak berdirinya Dokter-Djawa School di Batavia pada 1849. Setelah berbagai perkembangan kelembagaan pada masa kolonial dan pascakemerdekaan, pada 1950 terbentuk Universitas Indonesia sebagai universitas negeri dengan cakupan disiplin ilmu yang luas.

Perjalanan tersebut menarik karena memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi Indonesia berkembang melalui berbagai tradisi. UII merepresentasikan salah satu tonggak pendidikan tinggi yang lahir dari semangat keislaman dan kebangsaan. UI berkembang sebagai universitas dengan cakupan keilmuan yang luas. Sementara UIN merupakan perkembangan dari pendidikan tinggi Islam yang berusaha mempertemukan ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu sosial, humaniora, sains, teknologi, dan berbagai disiplin ilmu lainnya.

Dalam konteks inilah saya melihat posisi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Perjalanan kelembagaannya dari Fakultas Tarbiyah, kemudian STAIN Malang, Universitas Islam Indonesia-Sudan, hingga menjadi UIN pada 2004 merupakan bagian dari perjalanan pendidikan tinggi Islam Indonesia menuju bentuk universitas yang lebih integratif. Perubahan tersebut bukan sekadar perubahan nama, tetapi mencerminkan ikhtiar memperluas wilayah keilmuan Islam agar mampu berdialog dengan berbagai ilmu pengetahuan dan persoalan kehidupan.

Dari “UI”, pikiran saya kemudian bergerak kepada kata Cordoba. Di sinilah saya sengaja membedakan antara Cordova dan Cordoba Banyuwangi. Cordova atau Córdoba adalah nama sebuah kota di Andalusia yang dalam tradisi Arab-Islam dikenal sebagai Qurṭubah. Sedangkan Cordoba Banyuwangi adalah nama sebuah perguruan tinggi Islam kontemporer. Keduanya tentu bukan institusi yang sama dan hidup dalam konteks sejarah yang berbeda. Akan tetapi, keduanya dapat dipertemukan oleh sebuah gagasan: ilmu sebagai kekuatan peradaban.

Córdoba pada masa kejayaan al-Andalus berkembang menjadi salah satu pusat politik, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan penting di dunia Mediterania. Kita perlu berhati-hati menyebutnya sebagai “universitas” dalam pengertian modern, karena struktur universitas seperti yang kita kenal sekarang belum terbentuk. Yang berkembang adalah sebuah ekosistem ilmu yang terdiri atas masjid, perpustakaan, majelis ilmu, istana, para ulama, dokter, filsuf, astronom, ahli matematika, penyair, penerjemah, dan ilmuwan dari berbagai latar belakang.

Pada masa Abd al-Rahman III dan terutama al-Hakam II, Córdoba berkembang menjadi pusat intelektual yang sangat penting. Buku dan perpustakaan memperoleh perhatian besar. Dari lingkungan seperti ini lahir sejumlah ilmuwan yang pengaruhnya melampaui dunia Islam. Al-Zahrawi atau Abulcasis, misalnya, memberikan kontribusi besar dalam bidang kedokteran dan ilmu bedah. Karya-karyanya kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan menjadi bagian dari perkembangan tradisi kedokteran Eropa.

Demikian pula Ibn Rushd atau Averroes, yang lahir di Córdoba pada 1126. Ia dikenal sebagai filsuf, dokter, ahli hukum, dan pemikir yang memberikan kontribusi besar terhadap tradisi filsafat. Komentar-komentarnya terhadap Aristoteles diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan kemudian memengaruhi perkembangan filsafat Eropa.

Namun, pengaruh Córdoba terhadap Eropa tidak boleh dipahami secara sederhana bahwa “ilmu Eropa berasal dari Córdoba”. Sejarah transmisi ilmu jauh lebih kompleks. Pengetahuan bergerak melalui berbagai jalur, dari Yunani, Persia, India, dan dunia Islam, kemudian diterjemahkan, dikembangkan, dikritik, dan kembali diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Pusat-pusat penerjemahan seperti Toledo menjadi salah satu ruang penting dalam proses tersebut.

Karena itu, sumbangan Córdoba lebih tepat dipahami sebagai salah satu simpul dalam jaringan transmisi dan transformasi pengetahuan dunia. Pengaruhnya terhadap Amerika pun tidak bersifat langsung. Pengetahuan dari dunia Islam dan al-Andalus menjadi salah satu mata rantai dalam perkembangan intelektual Eropa, yang kemudian melalui perkembangan sejarah dunia Atlantik ikut memengaruhi pembentukan tradisi ilmu pengetahuan di Amerika.

Akan tetapi, UI Cordoba mesti melihat pelajaran terpenting dari Córdova bukan semata-mata kebanggaan terhadap kejayaan masa lalu, tetapi bagaimana sebuah masyarakat membangun ekosistem pengetahuan melalui perjumpaan berbagai tradisi. Ilmu tidak berkembang karena sebuah peradaban menutup diri, tetapi karena pengetahuan diterima, diterjemahkan, dikritik, dikembangkan, dan ditransformasikan menjadi pengetahuan baru.

Karena itu, ketika Universitas Islam Cordoba Banyuwangi menggunakan nama Cordoba, saya melihatnya sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar penggunaan nama historis. Nama tersebut dapat dibaca sebagai sebuah harapan untuk menghadirkan kembali spirit Cordoba dalam konteks Indonesia. Bukan mengulang Córdoba masa lalu, tetapi mengambil semangatnya: mempertemukan Islam dengan ilmu pengetahuan, tradisi dengan teknologi, pesantren dengan universitas, serta pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat.

UI Cordoba sendiri dikembangkan dengan orientasi pendidikan Islam berbasis pesantren dan perhatian terhadap studi keislaman, sains, teknologi digital, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, inovasi, dan kolaborasi. Di sinilah saya melihat bahwa nama Cordoba memiliki relevansi yang kuat dengan tantangan pendidikan tinggi Islam masa kini.

Cordova adalah memori peradaban; Cordoba Banyuwangi adalah ikhtiar masa depan.

Dari sinilah saya melihat pentingnya membangun hubungan antara Program Studi S3 Studi Islam UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan Universitas Islam Cordoba Banyuwangi. Hubungan tersebut tidak seharusnya berhenti pada kunjungan atau seremoni kelembagaan. Ia perlu dikembangkan menjadi jejaring akademik yang menghasilkan sesuatu.

Program doktor membutuhkan lingkungan keilmuan yang luas. Mahasiswa tidak cukup hanya mengikuti perkuliahan. Mereka harus menjadi researcher, menemukan research gap, memahami state of the art, membangun teori, melakukan penelitian, dan menghasilkan pengetahuan baru. Karena itu, perjumpaan dengan perguruan tinggi lain menjadi bagian penting dari proses akademik.

UI Cordoba memiliki potensi menjadi salah satu simpul jejaring tersebut. Kerja sama dapat dikembangkan melalui seminar akademik, doctoral colloquium, penelitian kolaboratif, pertukaran dosen dan mahasiswa, publikasi bersama, penelitian pesantren, kajian Al-Qur’an dan hadis, transformasi sosial, pendidikan Islam, ekonomi umat, digitalisasi studi Islam, kecerdasan buatan, hingga kajian Islam dan peradaban.

Banyuwangi sendiri merupakan ruang sosial yang kaya untuk penelitian. Pesantren, masyarakat, budaya, ekonomi, lingkungan, dan perkembangan pendidikan Islamnya dapat menjadi laboratorium bagi penelitian doktoral. Mahasiswa tidak datang hanya untuk mengumpulkan data, tetapi untuk membaca realitas, membangun konsep, mengembangkan teori, dan pada akhirnya memberikan kontribusi bagi masyarakat.

Dalam hubungan seperti ini, tidak ada logika bahwa satu institusi harus menjadi guru dan yang lain menjadi murid. Keduanya dapat menjadi mitra belajar. UIN Maliki Malang memiliki pengalaman dalam pengembangan pendidikan tinggi Islam dan integrasi keilmuan, sementara UI Cordoba membawa energi baru perguruan tinggi Islam berbasis pesantren yang ingin mempertemukan studi Islam, sains, teknologi digital, dan wawasan global.

Dengan demikian, silaturrahim dapat berkembang menjadi academic networking, academic networking menjadi academic collaboration, dan academic collaboration menjadi knowledge production. Ukuran keberhasilan hubungan antarlembaga bukan banyaknya MoU yang ditandatangani, tetapi seberapa banyak penelitian, publikasi, inovasi, teori, dan manfaat sosial yang lahir dari hubungan tersebut.

Pada akhirnya, perjalanan hari Minggu ke Banyuwangi kembali mengingatkan saya bahwa silaturrahim adalah bagian dari kerja akademik. Kita datang untuk melihat, tetapi sekaligus belajar. Kita datang untuk berbicara, tetapi juga mendengar. Kita membawa pengalaman sendiri, tetapi bersedia menerima pengalaman orang lain.

Ketika berdiri di depan Universitas Islam Cordoba Banyuwangi, saya seperti melihat sebuah garis yang menghubungkan masa lalu dan masa depan: dari Qurṭubah, Cordova atau Córdoba di Andalusia, menuju Cordoba di Banyuwangi; dari sejarah perjalanan ilmu di dunia Islam menuju tantangan pendidikan Islam Indonesia hari ini.

Tentu kita tidak sedang mengatakan bahwa Cordoba Banyuwangi harus menjadi Córdoba abad pertengahan. Zaman telah berubah dan tantangannya berbeda. Yang perlu diwarisi bukan bentuk masa lalunya, tetapi spiritnya: menghargai ilmu, membuka diri terhadap berbagai tradisi pengetahuan, mempertemukan agama dan sains, memanfaatkan teknologi dengan etika, serta menjadikan pendidikan sebagai jalan membangun manusia dan peradaban.

Karena itu, saya pulang dari Banyuwangi bukan hanya membawa dokumentasi perjalanan. Saya membawa sebuah renungan bahwa membangun perguruan tinggi tidak cukup dengan membangun gedung, program studi, dan sistem administrasi. Kita juga harus membangun jembatan antarmanusia, antarilmu, dan antarlembaga.

Dari Malang ke Banyuwangi, dari UIN Maliki menuju Cordoba, mudah-mudahan silaturrahim ini menjadi awal dari hubungan yang lebih luas: hubungan ilmu, hubungan pesantren, hubungan penelitian, dan pada akhirnya hubungan untuk membangun peradaban.

Sebab jika Cordova adalah memori tentang sebuah peradaban ilmu, maka Cordoba Banyuwangi dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk menyalakan kembali semangat itu dalam konteks Indonesia.

Dan mungkin, itulah makna terdalam dari perjalanan pada hari libur itu, berhenti sejenak dari rutinitas bukan berarti berhenti bekerja. Kadang justru melalui perjalanan dan silaturrahim, kita menemukan arah baru bagi pekerjaan yang lebih besar.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *