Ini adalah cerita dari Kak Tuan KH. Syamsuddin tentang humor kyai bersudara. Dalam tradisi pesantren, kisah-kisah ringan sering kali menyimpan kedalaman makna yang tidak ringan. Salah satu cerita hidup dalam ingatan Kak Tuan KH. Syamsuddin bin Abdul Aziz bin Syamsuddin adalah kisah lucu antara Mbah Zayyadiy dan Mbah KH. Zyamsuddin, Kisah ini sederhana, tentang rokok, tamu, dan bulu jagung. Tetapi dibalik kelucuannya, tersimpan pelajaran tentang adab, pengendalian nafsu, dan pendidikan karakter yang halus.
Dikisahkan, bahwa Mbah Zayyadiy termasuk Kyai yang gemar merokok. Rokok terbaik yang tersedia pada waktu itu, rokok Cap Korma dan hanya ada di Blega. Cerita dimulai:
Bedeh cerita se abek lucu. Mbah Zayyadiy reya seneng arokok. Pas acabis ka Ber Baru, Mbah Tuan Zayyadiy pas asaren e patamoyan. Pas Mbah Syamsuddin katamuian, rokok se bedeh langsung ebegi ka tamui, dhing Mbah Zayyadiy. Deddih se e karokok bik tamui ding Mba Zayyadiy. Jek rokok cap Korma, se biasanah bedeh nah e Bligeh. Jhek la tamui tak toman arokok cap Korma, pas e pak kerapak, dan pa taddek bik tamu. Seddheng Mbah Zayyadiy abunguh, pas asareyan rokok la taddek.
Ada sebuah cerita yang lucu. Mbah Zayyadiy itu kyai perokok. Pada waktu suwan ke Sumber Baru, Mbah Zayyadiy langsung tidur di ruang tamu. Pada waktu itu Mbah KH Syamsuddin ada tamu. Rokok yang ada di ruang tamu, ya punya Mbah Zayyadiy, langsung diberikan ke tamu itu. Jadi rokok yang diberikan pada tamu itu rokok Mbah Zayyadiy. Rokok cap Kurma, yang biasanya hanya dijual di Blega. Tamu yang tidak pernah merokok Cap Kurma, langsung disedot habis, dihabiskan oleh tamu itu. Ketika Mbah Zayyadiy sudah bangun, langsung mencari-cari rokok yang sudah habis.
“Abuh Kak, kammah rokok kuleh, Kak Tuan?”
“Anapah, Lek?”
“Rokok mik pas taddek.”
“Jhek reng bedeh tamui pas ling-jelingan ettok dek rokok, bik kuleh pas ebegi ka tamui.”
“Duh Kak Tuan reh, sapah se e soroah ka Bligeh derih Ber Baru?”
“Waduh Kak, rokok mana saya, Kak Tuan?” Kata Mbah Zayyadiy
“Kenapa, Lek?” Jawab Mbah Kyai Syamsuddin
“Rokok saya kok sudah habis.” Sahut Mbah Zayyadiy lagi.
“Lha ada tamu selalu melihat rokok terus, saya akhirnya memberikan rokok itu ke tamunya.” Jawab Mbah Yai Syamsuddin.
” Waduh, Kak Tuan, siapa yang akan disuruh pergi ke Blega dari Sumber Baru?” Kata Mbah Zayyadiy
“Anapah mik pas cek posangah, Lek?”
“Jhek reng taddek e kintoh pas nambun ka Bligeh.”
“Genikoh mik e kal takaleh nafsonah, Lek. Mik tak la nyareh bulunah jegung posot. Beddein deunah jegung pas somet, pas kabele ka colok eah, colok areyah cap Korma koah. Lek, e kal takalah napsonah la kabele ka colok eah areh cap Korma colok koah.”
“Kenapa sampean kok seperti sangat bingung, Lek?” Kata Mbah yai Syamsuddin
“Rokok itu tidak ada di sini harus pergi ke Blega,” Sahut Mbah Zayyadiy
” Kamu kok dibohongi nafsu mu, Lek. Kok ndak cari bulu jagung terus dilinting, lintingannya pakek daun jagung terus dinyalakan sambil mengatakan pada mulut mu.. ” Mulut, ini Cap Kurma, gitu Lek. Kamu dibohongi nafsumu, bilang saja ke mulut mu, in Cap Kurma, gitu.”
Secara pedagogis, ini adalah metode edukasi melalui humor. Dalam psikologi pendidikan modern, pendekatan seperti ini dikenal sebagai corrective humor: teguran yang dibungkus dengan kelucuan agar tidak melukai harga diri. Kritik tidak disampaikan secara frontal, tetapi melalui simbol dan metafora. Rokok Cap Korma menjadi simbol kenikmatan, sementara tongkol jagung adalah simbol kesederhanaan dan pengendalian diri. Guru tidak melarang, tidak menghakimi, tetapi menggeser kesadaran murid melalui permainan makna.
Jika dibaca dalam perspektif etika tasawuf sebagaimana dirumuskan oleh Imam al-Ghazali, inti dari kisah ini adalah mujahadat al-nafs, upaya menundukkan dorongan diri. Nafsu tidak selalu muncul dalam bentuk besar seperti ambisi kekuasaan atau harta; ia bisa hadir dalam bentuk kecil seperti kenikmatan sebatang rokok. Dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, al-Ghazali menjelaskan bahwa latihan spiritual justru dimulai dari hal-hal yang tampak remeh, karena di situlah konsistensi jiwa diuji. Mengganti rokok dengan tongkol jagung tentu hiperbolik dan lucu, tetapi hiperbola itu berfungsi sebagai cermin: apakah kita dikendalikan oleh kebiasaan, atau kita yang mengendalikan kebiasaan?
Dari sudut pandang psikologi sosial, gurauan ini juga menyentuh konsep self-regulation. Individu yang matang secara moral bukanlah yang bebas dari keinginan, melainkan yang mampu mengelola keinginan. Teguran humoris seperti ini menciptakan jarak psikologis antara individu dan dorongannya. Dengan tertawa, seseorang sebenarnya sedang mengambil jarak dari nafsunya sendiri. Humor menjadi mekanisme refleksi diri yang tidak defensif.
Menariknya, dalam cerita ini tidak ada konflik. Tidak ada kemarahan. Tidak ada otoritas yang dipertontonkan. Yang ada hanya percakapan ringan, tawa, dan pesan yang meresap. Di situlah tampak keindahan relasi guru-murid dalam tradisi pesantren: koreksi dilakukan tanpa meruntuhkan wibawa, pendidikan berjalan tanpa mempermalukan.
Gus Dur sering menggunakan humor untuk membongkar kemapanan berpikir, merelatifkan ego, dan menyampaikan kritik sosial tanpa menimbulkan resistensi. Dalam banyak kesempatan, beliau menyisipkan paradoks atau absurditas yang membuat orang tertawa, tetapi setelah itu diam dan merenung. Humor bukan sekadar hiburan; ia adalah strategi dekonstruksi. Dengan tertawa, orang melepaskan ketegangan psikologisnya, dan pada saat yang sama membuka ruang refleksi.
Hal yang sama terjadi dalam kisah rokok Cap Korma dan bulu jagung. Ketika Mbah Zayyadiy “kehilangan” rokoknya karena diberikan kepada tamu, respons gurunya bukan ceramah panjang tentang bahaya nafsu atau pentingnya zuhud. Sebaliknya, beliau mengatakan: kalau tidak bisa mengalahkan nafsu, bakarlah bulu jagung saja sebagai pengganti rokok. Secara literal, itu lucu dan hiperbolik. Tetapi secara simbolik, itu adalah kritik lembut terhadap keterikatan pada kenikmatan kecil.
Dalam teori komunikasi, humor seperti ini disebut benign violation—pelanggaran ringan terhadap ekspektasi yang tidak menimbulkan ancaman serius. Rokok adalah hal biasa; menggantinya dengan bulu jagung adalah absurditas. Ketidaksesuaian ini memicu tawa. Namun setelah tawa reda, pesan moral muncul, seberapa kita dikendalikan oleh kebiasaan?
Gus Dur melakukan hal yang serupa dalam skala sosial dan politik. Ia pernah berkata bahwa yang paling berbahaya bukanlah orang bodoh, tetapi orang pintar yang merasa paling benar. Kalimat itu sering disampaikan dengan selipan humor, sehingga kritik tajam terasa ringan. Dalam konteks Mbah Zayyadiy, humor tentang rokok bukan sekadar soal merokok, tetapi soal kecenderungan manusia mempertahankan kenyamanan. Dengan tertawa, ego tidak merasa diserang, tetapi kesadaran tetap disentuh.
Secara psikologis, humor kyai seperti itu memiliki fungsi regulatif. Ia menurunkan resistensi defensif dan memungkinkan internalisasi pesan tanpa rasa terpaksa. Dalam tradisi tasawuf, pendekatan seperti ini sangat efektif, karena tujuan pendidikan bukan hanya perubahan perilaku, tetapi transformasi batin. Teguran keras sering melahirkan kepatuhan lahiriah; humor yang bijak melahirkan kesadaran dari dalam.
Didalamnya keistimewaan ulama-ulama seperti Mbah Zayyadiy dan Mbah KH. Syamsuddin. Mereka tidak membangun wibawa melalui ketegangan, tetapi melalui kelapangan. Humor menjadi tanda kedewasaan spiritual. Orang yang hatinya lapang tidak mudah kejang, tidak mudah marah, dan tidak perlu mempertontonkan otoritas. Gus Dur pernah menunjukkan bahwa kecerdasan sejati sering kali hadir dalam bentuk kelakar. Dan dalam kisah rokok Cap Korma itu, kita melihat miniatur tradisi yang sama: tertawa, lalu sadar.
Dengan demikian, humor bukanlah pengurangan keseriusan, melainkan metode pendidikan tingkat tinggi. Ia menyentuh akal sekaligus hati. Dan seperti pada Gus Dur, pada cerita humor Mbah Zayyadiy pun humor menjadi jalan untuk menundukkan nafsu tanpa mempermalukan, menggambarkan tanpa menyakiti, serta mendidik tanpa menggurui.








