Surabaya fz— Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melakukan komunikasi strategis dengan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur sebagai tindak lanjut atas Memorandum of Understanding (MoU) antara UIN Maliki Malang dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pertemuan ini membahas penguatan kolaborasi dalam pengembangan sumber daya manusia, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan sinergi kelembagaan antara kampus dan organisasi NU.
Kegiatan silaturahim ini dihadiri oleh jajaran pimpinan UIN Maliki Malang dan PWNU Jawa Timur. Dari UIN Maliki Malang hadir Prof. Dr. Abdul Hamid, Wakil Rektor IV; Prof. Dr. Agus Maimun, Direktur Pascasarjana; Dr. Sutaman, Wakil Direktur II; serta Prof. Dr. M. Fauzan Zenrif, Ketua Program Studi S3 Studi Islam. Sementara itu, dari PWNU hadir KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) selaku Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur; H. Muhammad Faqih, Sekretaris PWNU Jawa Timur; serta sejumlah pengurus inti, termasuk Prof. Dr. H. Maskuri Bakri, Wakil Ketua PWNU Jawa Timur sekaligus Koordinator Bidang dalam struktur kepengurusan periode 2024–2029.
PWNU menyambut baik upaya penguatan kerja sama tersebut, terutama pada bidang-bidang yang menjadi keunggulan UIN Maliki Malang, seperti manajemen Ma’had. PWNU juga menyampaikan harapan agar UIN Maliki Malang dapat menyediakan beasiswa bagi mahasiswa S1 hasil seleksi PWNU sebagai bentuk afirmasi penguatan kaderisasi NU.
Pada bidang penelitian, PWNU mengusulkan kerja sama kolaboratif yang melibatkan perguruan tinggi NU, termasuk dalam penulisan jurnal ilmiah bersama. PWNU juga mencatat bahwa beberapa jurnal di lingkungan UNU telah terindeks Scopus, yang membuka peluang kolaborasi akademik tingkat tinggi. Dalam bidang pengabdian kepada masyarakat, PWNU menjelaskan bahwa lembaga tersebut telah mendapatkan SK pengelolaan sekitar 100 hektare lahan melalui program Kehutanan Sosial. Untuk itu, PWNU membutuhkan dukungan tenaga ahli dari UIN Maliki Malang dalam pengelolaan dan pendampingan program.
PWNU menekankan pentingnya pengembangan SDM generasi NU melalui sinergi dengan LPDP, LPPD, dan lembaga pendidikan tinggi. “Secara keseluruhan, NU terlambat menyadari bahwa warganya tertinggal,” ungkap Gus Kikin. Ia menambahkan bahwa minat pendidikan warga NU semakin meningkat, dan NU memiliki peluang besar untuk meningkatkan kualitas SDM melalui pendidikan Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Gus Kikin menegaskan bahwa NU merupakan organisasi inklusif, sebagaimana terlihat dalam pandangan masyarakat internasional ketika PWNU melakukan silaturahim ke beberapa negara. Ia juga sangat menyambut baik peluang kerja sama pengembangan SDM tingkat S2 dan S3 dengan Pascasarjana UIN Maliki Malang. Dengan prinsip al-muhafadhah, NU dinilai perlu menata ulang manajemen dan SDM sesuai kebutuhan zaman. Dialog juga menyoroti pentingnya sinergi antara keilmuan pesantren dan keilmuan modern untuk meningkatkan kualitas SDM NU hingga mencapai pendidikan afektif, pendidikan yang menyentuh hati. “Orang cerdas bukanlah yang luar biasa, tetapi orang yang qana’ah yang luar biasa,” ujar Gus Kikin.
Selain itu, dibahas pula peluang pemanfaatan lebih dari 12.000 lembaga pendidikan Ma’arif sebagai basis pelaksanaan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), afirmasi pendidikan doktoral bagi dosen LPTNU dan LPNU, serta perluasan sasaran Program PPG Prajabatan yang berpihak kepada guru-guru Ma’arif.
Pertemuan ini menegaskan bahwa sinergi antara Pascasarjana UIN Maliki Malang dan PWNU Jawa Timur merupakan langkah strategis untuk memperkuat kapasitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian di lingkungan Nahdlatul Ulama. Harapannya, kerja sama ini akan mendukung penguatan SDM yang unggul, berkarakter, inklusif, dan berdaya saing global.








