Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan 1447 Hijriah. Malam itu adalah malam ke-25—malam yang sejak puluhan tahun lalu selalu memiliki makna khusus bagi keluarga besar Bani As’ad. Seperti biasanya, kami berkumpul untuk buka bersama. Kadang tanggalnya tepat malam 25 Ramadhan, kadang sedikit bergeser, mengikuti kesepakatan para sepuh keluarga. Tetapi maknanya tetap sama, berkumpul, saling melihat wajah-wajah saudara, dan memperbarui silaturrahim yang telah dijaga sejak lama.
Tradisi ini sudah berjalan sangat lama. Dimulai sekitar tahun 1993 atau 1994, ketika Ummi Nyai Hj. Mahzunah pertama kali menggagasnya. Saat itu beliau datang dengan satu gagasan yang sederhana, tetapi penuh makna: keluarga besar harus memiliki waktu untuk bertemu. Sejak itulah setiap Ramadhan kami berkumpul. Namun malam ini terasa sedikit berbeda.
Tidak seperti tahun lalu, Ibuk Nyai Husniyah tidak bisa hadir. Beliau harus menemani Buyah Yai Ahmad yang sedang beristirahat dan memerlukan perhatian di rumah. Kehadiran mereka yang biasanya menjadi peneduh suasana malam Ramadhan kali ini harus kami rindukan dari jauh.
Semakin tahun, kami juga semakin menyadari sesuatu yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun: jumlah keluarga sepuh yang hadir semakin berkurang. Jika pada tahun-tahun sebelumnya halaman tempat berkumpul itu masih dipenuhi para sepuh, para paman, para bu nyai, para orang tua yang menjadi peneduh keluarga—maka tahun ini tidak lagi selengkap masa-masa itu.
Waktu berjalan dengan caranya sendiri. Saya duduk di antara saudara-saudara yang seangkatan dengan saya. Kak Tuan Yai Hamim, Gus Fauzi, Gus Izul, Gus Ridlwan, Gus Hil, dan beberapa yang lain. Kami saling berbincang, kadang tertawa kecil mengingat cerita lama.
Tetapi di sela-sela percakapan itu ada satu perasaan yang diam-diam hadir. Kami mulai terasa seperti orang yang disepuhkan. Bukan karena kami benar-benar sudah merasa tua, karena masih ada Man Tuan Yai Alimuddin, Nyik Nyai Hanifah, Nyik Nyai Ghaniyah, Mbak Nyai Luthfiya, dan Mas Tuan Yai Muhammad. Tetapi karena satu demi satu para sepuh yang dahulu selalu ada kini sudah tidak lagi duduk bersama kami. Tanpa terasa, generasi kami perlahan-lahan berada di barisan depan keluarga.
Namun di tengah perubahan itu, ada satu hal yang tidak berubah sejak dulu. Keakraban. Kebahagiaan sederhana. Dan kebersahajaan yang selalu terasa setiap kali keluarga Bani As’ad berkumpul.
Saya masih sering mengingat cerita lama tentang awal mula tradisi ini. Ketika Ummi Aminah dahulu datang berkunjung dan mengajak keluarga untuk mengadakan buka bersama. Beliau berkata dengan sangat sederhana, “Biar menjadi sarana ketemu dan silaturrahim… lalu menjadi lebih akrab.”
Itulah cita-cita awalnya. Bukan acara besar. Bukan pertemuan resmi. Hanya sebuah meja makan, hidangan sederhana, dan keluarga yang duduk bersama. Dan malam ini, setelah lebih dari tiga puluh tahun berlalu, cita-cita itu masih hidup. Anak-anak kecil berlari di halaman mushalla puteri. Para ibu menyiapkan hidangan. Para lelaki berbincang sambil menunggu adzan Maghrib. Sesekali terdengar tawa, sesekali terdengar panggilan nama dari sudut ruangan.
Saya memandang sekeliling. Banyak wajah yang dulu tidak ada kini hadir. Anak-anak yang dulu kecil kini sudah dewasa. Generasi baru tumbuh di antara kami.
Tradisi ini seperti sungai yang terus mengalir. Para pendahulu telah membuka jalannya. Dan kami hanya meneruskan alirannya.
Ketika adzan Maghrib akhirnya terdengar, kami berbuka bersama. Kurma, air putih, dan hidangan yang sudah disiapkan dengan penuh kehangatan keluarga. Di tengah suasana itu, hati saya berdoa pelan.
Alhamdulillah ya Allah… Terima kasih kepada para pendahulu keluarga kami yang telah menyediakan jalan silaturrahim ini. Jalan untuk bertemu, berbagi cerita, dan merasakan kebahagiaan bersama.
Kepada Ummi Aminah. Ummi Nyai Mahzunah. Kepada semua para sepuh yang telah lebih dahulu menanam benih kebersamaan ini. Semoga kebahagiaan yang dahulu mereka tanam di keluarga ini kembali kepada mereka dengan kebahagiaan yang jauh lebih besar di sisi-Mu. Dan semoga tradisi ini tetap hidup, dari generasi ke generasi.
Amin.








